Sesi 3
Sesi ketiga ini cukup berbeda karena berbentuk talkshow. Narasumber yang hadir di antaranya Syafiah Basir (Anggota DPRD Donggala 2019-2024), Nova Harivan Paloh (Anggota DPR RI 2019-2024), dan Rizki Natakusumah (Anggota DPR RI 2019-2024). Pada sesi ini, narasumber membagikan pengalamannya ketika mengikuti pemilu dan bagaimana strateginya untuk meraih kemenangan.
Nova menjelaskan bahwa ketika nyaleg, caleg harus mempelajari demografi masyarakat dapilnya serta membentuk tim relawan. Yang tak kalah penting, caleg harus mau repot ketika nyemplung di dunia politik.
“Kalo kita ingin mencalonkan diri sebagai legislatif harus siap repot. Repot di telepon banyak orang, repot nerima proposal, repot dikejar-kejar masyarakat. Makanya jangan memberikan janji yang tidak masuk akal. Prinsipnya, memberikan apa yang kita bisa lakukan,” ujar Nova.
Dalam membentuk tim relawan, caleg pun harus jeli dan melakukan uji tim. Selain itu harus memilih relawan yang benar-benar bisa menjalani fungsi sosialisasi yang sesuai timeline. Para caleg pun harus paham keunggulan diri.
“Paham diferensiasi kita dengan caleg lain apa, keunggulan diri kita apa. Kondisi lapangan ini disebut pesta rakyat atau pesta proposal. Harus punya prinsip keteguhan diri. Paling penting niat ikhlas bantu masyarakat,” ucap Nova.
Syafiah menekankan pada melakukan klasifikasi dan identifikasi pemilih yang beragam harus dilakukan untuk bisa menentukan sasaran suara yang dipilih serta jumlah tim. Untuk mengidentifikasi hal tersebut Syarifah merekomendasikan para caleg untuk mengamati jumlah suara pemenang di dapilnya masing-masing.
“Teman-teman akan kelelahan kalau enggak punya data, lihat dulu di 2019, suara kursi terakhir berapa? Identifikasi suara kursi terakhir itu menjadi dasar suara yang ditargetkan berapa, dari itu bisa bikin tim yang disesuaikan,” ungkapnya.
Setelah tahu targetnya, caleg diharapkan mampu memetakan suara yang diperolehnya dari mana saja. Apakah dari keluarga, teman, bisnis, atau pemilih? Ia juga seseorang yang memegang teguh idealismenya bahwa biaya kampanye itu bisa murah.
“Saya mengeluarkan uang sebesar Rp 47,6 juta untuk melakukan kampanye di 4 kecamatan di 40 desa,” kata Syafiah.
Sementara itu, Rizki mengaku menjadi anggota DPR menjadi caranya untuk mengubah daerahnya. Untuk menang, Rizki menekankan pada terbangunnya struktur serta kerja lapangan.
“Yang lebih penting itu bangun jaringan struktur sampai ke RT/RW. Enggak ada satu blueprint atau cara yg saklek untuk menang nyaleg? Message kita harus disesuaikan dengan daerah masing-masing, harus bisa jawab pertanyaan mereka.” ungkapnya.
Ia pun mengatakan bahwa pemasangan baliho caleg juga penting dilakukan saat kampanye sebagai ajang pengenalan.
“Tapi lebih penting lagi ketemu sama masyarakat, tatap muka dengan masyarakat. Siapa yang paling sering bertatap muka dengan masyarakat maka akan menang. Karena kita bukan Elon Musk, yang enggak pernah ketemu langsung bisa percaya. Kita pakai jalur yang proper yang dipercaya bisa menang,” pungkas Rizki.
Tak lupa Rizki mengingatkan, ketika memilih timses harus diuji terlebih dahulu.
“Tes kalau misal money politic itu ada atau enggak. Beri stiker ke tim, nyampe apa enggak ke masyarakat? Bisa evaluasi tim, kalau tim gue di sini jalan amanah, di sini enggak. Tapi, intinya message-nya harus jelas, tagline-nya harus jelas, yang diperjuangin jelas,” tutupnya. (sng)










