Scroll untuk baca artikel

Par-PolSuara Jabar

Mengenal Lebih Dekat Santri Sekaligus Aktivis Asal Jatiasih Bekasi

×

Mengenal Lebih Dekat Santri Sekaligus Aktivis Asal Jatiasih Bekasi

Sebarkan artikel ini
Potret Hamdi yang berlatar belakang santri sekaligus aktivis HMI dan juga fungsionaris partai (kanan) bersama Ade Puspitasari (kiri) Ketua DPD Partai Golkar Kota Bekasi. (Dok. Istimewa)
Potret Hamdi yang berlatar belakang santri sekaligus aktivis HMI dan juga fungsionaris partai (kanan) bersama Ade Puspitasari (kiri) Ketua DPD Partai Golkar Kota Bekasi. (Dok. Istimewa)

Suarapena.com, BEKASI – Hamdi namanya. Nama yang singkat, tapi penuh makna dan mudah diingat. Pemuda ini lahir dari pasangan H. Mitam Kasim dan Hj. Ropiah di Jatimekar, Jatiasih, Kota Bekasi pada Juli 1983.

Setelah menamatkan pendidikan sekolah dasarnya di SDN Raharja yang sekarang berubah nama menjadi SDN Jatimekar IV, Hamdi melanjutkan pendidikan menengah pertama hingga menengah atas nya di Pondok Pesantren Darussalam, Ciomas Bogor, Jawa Barat.

Advertisement

Scroll untuk terus membaca

Selama 6 tahun dia menimba ilmu dan dididik di lingkungan Ponpes, kini dirinya tumbuh menjadi seorang yang mandiri, berani, dan memiliki integritas.

Pasca ia menamatkan pendidikan menengah atasnya di Ponpes Darussalam, Hamdi kemudian melanjutkan pendidikan tingginya di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Di kampus inilah dia mulai bergabung dan aktif di organisasi ekstra kampus yang bernama Himpunan Mahasiswa Islam atau lebih dikenal HMI.

Berita Terkait:  Gugatan Ditolak PN Bekasi, Nofel: Masih Bisa Diajukan Kembali

Nalar kritis dan analisisnya sebagai santri sekaligus aktivis pun semakin terasah. Banyak buah pikirannya yang dimuat oleh media nasional maupun media lokal.

“Menulis itukan bukan hanya ruang untuk kita berbagi pemikiran, tetapi menulis itu menjadi bagian atau upaya kita mengingat apa yang kita baca,” ujar Hamdi kepada redaksi, Minggu (15/1/2023).

Sebagai santri sekaligus aktivis, diketahui bahwa Hamdi juga pernah mendirikan sebuah lembaga riset yang fokusnya pada penelitian, survei, dan kajian yang diberi nama Bekasi Institute.

Hamdi juga pernah didaulat sebagai sekretaris ikatan alumni UIN Jakarta (IKALUIN) cabang Bekasi Raya selama dua periode.

Hamdi yang mempunyai pengalaman bekerja di Kementerian Agama Republik Indonesia juga pernah menjadi pimpinan disebuah media cetak lokal. Dan kini, dia menjadi salah satu fungsionaris Partai Golkar Kota Bekasi.

Keputusannya untuk terjun ke dunia politik pun bukan semata-mata ingin mencari jabatan. Namun, keputusannya masuk kedalam Partai berlambang pohon beringin ini lantaran didorong oleh rasa cinta pada kota yang telah memberikan banyak pengalaman hidup.

Berita Terkait:  Gedung UIN Jakarta Kebakaran, Asap Hitam Membubung Tinggi

“Politik itu kan bukan hanya bagaimana kita bisa menduduki eksekutif atau legislatif. Tapi sesungguhnya politik lebih dari itu, yaitu serangkaian kegiatan yang kita lakukan dalam rangka bermanfaat untuk masyarakat,” ucap Hamdi.

Pria yang diwilayahnya terekam sebagai pemuda kalem dan berwibawa ini pun dinilai cukup toleran dalam melihat berbagai persoalan ditengah masyarakat. Tak sedikit dari pandangan-pandangannya dijadikan sebuah rujukan oleh masyarakat.

“Saya tidak lagi melihat masyarakat dengan kacamata ideologi maupun perspektif ideologi. Tapi saya melihat masyarakat dalam perspektif fungsional. Apapun agamanya, sukunya, ataupun rasnya.

Maka dari itu, saya sebagai kader golkar mesti hadir bersama masyarakat dalam rangka memberikan kemanfaatan diri saya kepada masyarakat,” pungkasnya. (Bo/Sp)

error: Content is protected !!

Eksplorasi konten lain dari Suarapena.com | Suara Pena Mata Hati Bangsa

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca