Suarapena.com, SURABAYA – Kelompok Informasi Masyarakat (KIM) Kraton Kidul dari Kota Pekalongan, yang mewakili Provinsi Jawa Tengah, telah berpartisipasi dalam Festival KIM 2023 yang diselenggarakan di Balai Pemuda Surabaya. Festival ini dibuka oleh Direktur Jenderal Informasi dan Komunikasi Publik (IKP) Kementerian Komunikasi dan Informatika RI, Usman Kansong, pada hari Jumat (27/10/2023).
Zaenal Muhibbin, Ketua KIM Kraton Kidul, mengungkapkan bahwa kelompoknya telah sering mengikuti ajang KIM, bahkan di tingkat nasional. Namun, ini adalah pertama kalinya KIM menjadi ajang perlombaan. Zaenal dan timnya membawa produk KIM mereka untuk dipamerkan di stan, termasuk kain dan pakaian batik khas Pekalongan. Selain itu, Zaenal juga mempersiapkan materi presentasi untuk meyakinkan dewan juri tentang pencapaian yang telah mereka raih.
Dengan kreativitas dan aktivitas semua anggotanya, Zaenal berharap bisa meraih juara. Namun, tujuan utamanya adalah untuk membuat KIM mereka lebih dikenal, mendapatkan pengakuan, dan memperluas jejaring di pemerintah pusat. “Tujuannya bukan penjualan, tetapi saya ingin kami bisa terhubung dengan (pemerintah) pusat,” ungkapnya.
Menurut Zaenal, keunggulan KIM Kraton Kidul terletak pada aktivitasnya. Mereka berusaha menciptakan kreasi-kreasi baru dan menyebarkan informasi melalui berbagai cara, seperti pamflet, gethok tular, pertemuan warga, termasuk arisan RT, RW, PKK, hingga sosialisasi setelah salat jemaah.
Usman Kansong, Dirjen IKP, menyampaikan bahwa di era teknologi digital saat ini, ada dua tantangan yang dihadapi. Di satu sisi, teknologi digital memungkinkan komunikasi yang cepat dan tidak terbatas oleh ruang dan waktu. Namun di sisi lain, teknologi juga bisa menimbulkan masalah ketika digunakan oleh oknum untuk menyebarkan hoaks atau disinformasi.
“Dalam dua aspek teknologi ini, peran KIM sangat penting. Dalam hal positif teknologi, KIM harus menyampaikan informasi yang benar dengan bahasa yang mudah dipahami masyarakat. Salah satu nilai penting KIM adalah mereka berdiskusi dalam kesetaraan karena namanya komunitas. Selain itu juga bottom up,” katanya. (ul/sng)










