Isu yang diambil pun sebagai makanan lezat bagi gemuknya momok benci di republik ini, apalagi kalau bukan soal nasi. Pantas saja propagandis berhasil untuk membuat marah pribumi dan memaki maki masyarakat Cina yang sebetulnya tengah tenang-tenang saja, dan justru memiliki pihak lawan yang sedang ketakutan di seberang sini.
Bangsa Indonesia sendiri bukan sifatnya sebagai pembenci, dari zaman prasasti bahkan penjajahan sekalipun tidak ada kabarnya untuk membenci lawan, membalas dendam setelah kemerdekaannya sendiri selain dari pada memerdekakan diri sendiri. Sanak saudara, bapaknya, ibunya, neneknya, adiknya, dan tanah air yang menghidupinya.
Kemarahan adalah rasa cinta yang tertindas meski kelaparan dan kesakitan. Cinta jualah yang menguatkan dan menyadarkan, karena cinta satu-satunya kemewahan yang dimiliki bangsa Indonesia untuk mendamaikan keadaan yang begitu sengsara masa itu. Sungguh aksi perlawanan memang murni bukan kebencian. kita tidak pernah berurusan dengan Cina, dan sekutunya, Amerika, bahkan lainnya.










