Suarapena.com, JAKARTA -Anggota Komisi VIII DPR RI Selly Andriany Gantina meminta pemerintah memperkuat layanan kesehatan, pendampingan, dan pengawasan terhadap jemaah Indonesia menjelang puncak pelaksanaan ibadah haji di Arab Saudi.
Permintaan itu disampaikan menyusul meningkatnya jumlah jemaah haji Indonesia yang wafat serta bertambahnya jemaah yang membutuhkan perawatan intensif di Tanah Suci.
Selly mengatakan, secara umum pelaksanaan pemberangkatan jemaah haji tahun ini berjalan cukup baik. Mayoritas jemaah gelombang pertama telah tiba di Madinah, sementara sebagian jemaah lainnya mulai memasuki Makkah bersama kedatangan gelombang kedua.
Meski demikian, ia menilai masih terdapat sejumlah persoalan yang perlu segera mendapat perhatian pemerintah.
“Saya pertama-tama mengucapkan terima kasih kepada Kementerian Haji dan Umrah yang sudah menyelenggarakan pelaksanaan haji. Tetapi berdasarkan evaluasi kami, ada beberapa hal yang harus menjadi perhatian serius,” ujar Selly, Selasa (12/5/2026).
Menurut Selly, perhatian utama pemerintah saat ini harus difokuskan pada upaya menekan angka kematian jemaah menjelang fase puncak ibadah haji di Arafah, Muzdalifah, dan Mina (Armuzna).
Ia mengingatkan, cuaca panas ekstrem di Arab Saudi serta tingginya aktivitas fisik dapat meningkatkan risiko gangguan kesehatan, terutama bagi jemaah lanjut usia dan mereka yang memiliki penyakit penyerta.
“Yang harus menjadi perhatian kita adalah bagaimana menekan angka kematian agar tidak melonjak pada puncak haji nanti,” katanya.
Selain layanan kesehatan, Selly juga menyoroti kesiapan fasilitas akomodasi dan pelayanan petugas haji di lapangan. Ia mengaku menerima informasi masih ada hotel jemaah yang berlokasi cukup jauh dari pusat kegiatan ibadah.
Karena itu, ia meminta petugas memastikan pelayanan tetap maksimal agar jemaah merasa nyaman meski harus menempuh jarak lebih jauh.
Selly juga mengingatkan pentingnya menjaga kualitas layanan konsumsi bagi jemaah di Makkah dan Madinah. Menurut dia, variasi menu dan kualitas katering perlu diperhatikan agar kebutuhan gizi jemaah tetap terpenuhi selama menjalankan ibadah.
Di sisi lain, ia meminta pengawasan terhadap Kelompok Bimbingan Ibadah Haji dan Umrah (KBIHU) diperketat. Selly menilai jemaah tidak seharusnya diarahkan menjalankan umrah sunnah berulang kali di tengah kondisi cuaca yang sangat panas.
“Kami masih mendengar ada jemaah yang diarahkan berkali-kali melakukan umrah sunnah. Padahal cuaca sangat panas dan petugas terbatas. Ini harus menjadi perhatian,” ujarnya.
Ia menyarankan pelaksanaan ibadah sunnah tambahan dilakukan setelah fase puncak haji selesai agar kondisi fisik jemaah lebih stabil.
Tak hanya itu, Selly turut menyoroti pelayanan rumah sakit dan sistem asuransi kesehatan jemaah Indonesia di Arab Saudi. Ia mengungkapkan masih terdapat kendala terkait pembatasan masa tanggungan asuransi sehingga sejumlah jemaah yang masih membutuhkan perawatan harus dipindahkan ke rumah sakit lain.
Menurut dia, kondisi tersebut dapat menyulitkan jemaah karena harus kembali menjalani proses administrasi dan penanganan medis.
“Kalau jemaah belum sembuh, harusnya tetap dirawat sampai selesai. Jangan dipindah-pindah hanya karena batas waktu asuransi,” kata Selly.
Selain layanan kesehatan, Selly juga menyoroti aspek transportasi jemaah, terutama penggunaan kendaraan di luar layanan resmi. Ia meminta seluruh moda transportasi yang digunakan jemaah untuk city tour maupun wisata religi berada dalam pengawasan pemerintah demi menjamin keselamatan.
“Ke depan harus dievaluasi, setiap transportasi yang dipergunakan jemaah harus dalam kontrol pemerintah agar keselamatan lebih terjamin,” ucapnya.
Selly berharap pemerintah segera menindaklanjuti berbagai catatan tersebut mengingat puncak pelaksanaan ibadah haji akan segera berlangsung.
Menurut dia, keberhasilan penyelenggaraan ibadah haji tidak hanya diukur dari kelancaran keberangkatan, tetapi juga dari kualitas perlindungan dan keselamatan jemaah selama berada di Tanah Suci. (r5/aha)










