Scroll untuk baca artikel
Pendidikan

Bagaimana Nasib 72 Siswa Terlantar di Bekasi?

×

Bagaimana Nasib 72 Siswa Terlantar di Bekasi?

Sebarkan artikel ini
Ali Fauzy, Kepala Dinas Pendidikan Kota Bekasi
Ali Fauzy, Kepala Dinas Pendidikan Kota Bekasi
SUARAPENA.COM – Nasib 72 siswa yang terlantar di Kota Bekasi ditentukan. Dari 72 siswa terlantar itu, 15 siswa masuk SMAN 10 Kota Bekasi, sementara 57 lainnya memilih masuk sekolah swasta. Alasan siswa memilih sekolah swasta lantaran terlantar dan tertinggal materi pelajaran selama 3 minggu.

“Dari 72 siswa kemarin yang terlantar, ada 57 yang sepakat dimasukan ke SMAN 10 Terbuka. Sementara sisanya 15 memilih swasta,” kata Kepala Dinas Pendidikan Kota Bekasi, Ali Fauzi di Plaza Pemerintah Kota Bekasi pada Senin (14/8/2017).

Ali mengaku, tidak bisa mengintervensi kehendak para orangtua siswa yang memilih sekolah swasta. Sebab, memilih sekolah swasta merupakan keputusan mereka yang dianggap baik untuk anaknya.

Berita Terkait:  Ngopi, Didit Susilo: Dunia Pendidikan Jangan Alergi terhadap Wartawan

“Kita sudah menjembatani orangtua murid agar tetap memperoleh pendidikan di SMAN 10, meski kenyatannya adalah SMA Terbuka,” jelas Ali.

Advertisement
Scroll ke bawah untuk lihat konten

Seperti diberitakan beberapa waktu lalu, sebanyak 72 siswa ‘titipan’ Kota Bekasi di SMAN 10 terlantar di SMK Yaperti, Medansatria, Kota Bekasi. Meski mereka telah dinyatakan tidak lulus seleksi Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) jalur zonasi, namun siswa tetap bertahan di sekolah itu.

Berita Terkait:  Bukan Finger Print, Dinas Pendidikan Gagas Absen Digital

Pemerintah Kota Bekasi yang mengetahui kabar itu, kemudian memberi angin segar. Kota Bekasi meminta pihak sekolah agar tetap menampung para siswa sambil menunggu keputusan dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan tentang penambahan jumlah siswa di tiap rombongan pelajar (rombel).

Berita Terkait:  Hari Guru Nasional, 3000 Guru Honorer Bakal Diangkat Jadi TKK

Pemerintah Provinsi Jawa Barat selaku pemangku kewenangan sekolah kemudian menolak itu. Akibatnya, para siswa terlantar karena guru tidak mau mengajar kembali dengan alasan khawatir suntikan dana dari provinsi akan dibekukan. (sng)