Scroll untuk baca artikel

HeadlineNewsPar-Pol

Catatan Kritis Putra Nababan Soal Kesenjangan Investasi dan Utilisasi Produksi Nasional

×

Catatan Kritis Putra Nababan Soal Kesenjangan Investasi dan Utilisasi Produksi Nasional

Sebarkan artikel ini
Putra Nababan memberikan catatan kritis soal realisasi investasi dan rendahnya tingkat pemanfaatan kapasitas produksi pabrik.
Putra Nababan memberikan catatan kritis soal realisasi investasi dan rendahnya tingkat pemanfaatan kapasitas produksi pabrik.

Suarapena.com, JAKARTA – Anggota Komisi VII DPR RI, Putra Nababan, memberikan catatan kritis terhadap kinerja sektor industri nasional dalam Rapat Kerja bersama Menteri Perindustrian RI di Gedung Nusantara I, Senayan, Jakarta, Senin (26/1/2026).

Putra menyoroti adanya kesenjangan antara tingginya realisasi investasi dan rendahnya tingkat utilisasi kapasitas produksi pabrik. Berdasarkan data yang dipaparkan, realisasi investasi sektor industri mencapai Rp 552 triliun, namun rata-rata utilisasi produksi nasional hanya 61,89 persen.

Advertisement

Scroll untuk terus membaca

“Utilisasi di bawah 70 persen, kalau ekonomi industri itu lampu kuning. Hampir 40 persen kapasitas mesin yang terpasang ini menganggur. Benar atau tidak, antara Rp 552 triliun dan 61 persen ini agak jauh, Pak Menteri,” ujar Putra.

Berita Terkait:  Samuel PDIP Soroti Penyerapan UMKM di PIK 2 yang Masih Rendah

Politisi Fraksi PDIP ini juga menyoroti program vokasi Kementerian Perindustrian yang dianggap belum memberikan dampak signifikan. Menurut Putra, jumlah lulusan vokasi yang hanya sekitar 6.000 orang masih terlalu kecil dibandingkan total serapan tenaga kerja industri yang mencapai 20 juta orang.

Berita Terkait:  Komisi VII Akan Tindak Lanjuti Dugaan Ekspor Ilegal Bijih Nikel ke China, Negara Diduga Rugi Rp575 Miliar

“Kalau saya lihat ini masih kelas pilot project. Kalau bicara soal jangkauan masif, angka-angka ini baru sekadar contoh,” kata Putra.

Selain itu, Putra mengkritik penurunan plafon kredit untuk industri padat karya sebesar 30 persen pada 2026. Ia mempertanyakan keberpihakan bank Himbara, terutama BNI, yang menargetkan debitur nol untuk sektor ini, padahal industri padat karya membutuhkan dukungan permodalan. (r5/aha)

error: Content is protected !!

Eksplorasi konten lain dari Suarapena.com | Suara Pena Mata Hati Bangsa

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca