SUARAPENA.COM – Ada tiga komunitas yang selalu mendapatkan privilegedalam mengutarakan pendapat.
Tiga komunitas itu selalu dilibatkan Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo dalam pembangunan di daerahnya.
Satu diantaranya ialah seorang perwakilan forum anak bernama Yani. Ia menyampaikan tentang maraknya pernikahan dini di wilayahnya.
Menurut siswa SMAN 1 Ngawen ini, sepanjang 2022 di desanya ada 15 anak yang melakukan pernikahan dini. Rata-rata usianya masih dibawah 17 tahun.
“Di desa saya banyak teman-teman yang menikah dini. Di tahun ini, sudah ada 15 anak menikah dini. Rata-rata, usianya masih 12-15 tahun pak,” kata Yani dalam Musrenbang wilayah Wanarakuti (Juwana, Jepara, Kudus, Pati) dan Banglor (Rembang, Blora) di Pendapa Kabupaten Blora belum lama ini, Selasa (26/4/2022).
Yani menceritakan, banyak diantara mereka menikah karena tuntutan ekonomi keluarga. Orang tua mereka menikahkan anak-anak itu karena kemiskinan.
“Kalau tidak dinikahkan, jadi beban keluarga. Makanya akhirnya mereka dinikahkan ke orang yang lebih tua pak, yang lebih mapan,” ungkapnya.
Oleh sebab itu, Yani meminta Ganjar untuk membantu menyelesaikan persoalan ini. Karena menurutnya, pernikahan anak harus dicegah untuk kebahagiaan dan masa depan anak-anak.
“Kami minta diberikan pelatihan pak, editing film, pelatihan menjahit, pelatihan lain, agar kita punya skilldan bisa menopang ekonomi keluarga.
Kami juga minta diberikan pendidikan tentang reproduksi atau sex educationdi sekolah agar lebih paham,” pinta Yani.
Mendengar cerita itu, Ganjar pun cukup terkejut dengan laporan Yani. Ia langsung meminta Dinas Perempuan dan Anak untuk turun dan memberikan pelatihan pada anak-anak di desa tersebut.
“Saya minta nomor telephone ya, nanti biar dinas saya langsung turun. Kamu kumpulkan teman-teman kamu yang siap dilatih, nanti akan kami berikan pelatihan,” ucap Ganjar.
Selain itu, Ganjar pun turut bangga melihat anak-anak begitu awarepada persoalan yang mereka hadapi. Mereka berani berbicara dan mengampanyekan soal itu.
“Anak-anak itu peduli pada temannya, khususnya soal pernikahan dini. Mereka dinikahkan karena alasan ekonomi orang tua. Bahkan yang menjadi keresahan kita, usianya ada yang 12 tahun lho,” tuturnya.
Lebih lanjut Ganjar mengatakan, gerakan Jo Kawin Bocah memang menjadi program yang terus digenjot.
Ia akan terus menggencarkan sosialisasi dan pendekatan termasuk masuk ke sekolah untuk mengajarkan tentang pendidikan reproduksi.
“Kita akan kerja sama dengan BKKBN, Dinkes dan Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak untuk masuk ke sekolah dan desa-desa.
Nanti kita melakukan sosialisasi dan edukasi. Termasuk tadi anak-anak minta difasilitasi pelatihan, tentu akan kami penuhi,” katanya.
Ganjar juga mengimbau kepada masyarakat, khususnya orang tua untuk lebih peduli.
Apa yang dilaporkan forum anak dalam Musrenbangwil tersebut menjadi warningbagi orang tua agar lebih peduli pada anak-anak.
“Kita dituntut memberikan kepercayaan diri pada anak-anak. Berikan semangat pada mereka untuk mendapatkan cita-citanya.
Gerakan Jo Kawin Bocah harus terus kita gaungkan agar bisa diterima dan dipahami oleh masyarakat banyak,” pungkasnya. (Bo/Hms/cr03)










