Scroll untuk baca artikel
NewsSuara Jateng

Investasi Jateng Rp 48,54 Triliun, Ikmal dan Sella Kini Bisa Bantu Ekonomi Keluarga

×

Investasi Jateng Rp 48,54 Triliun, Ikmal dan Sella Kini Bisa Bantu Ekonomi Keluarga

Sebarkan artikel ini
Investasi Jateng Rp 48,54 triliun serap 213 ribu tenaga kerja, Ikmal dan Sella kini bisa bantu ekonomi keluarga.
Investasi Jateng Rp 48,54 triliun serap 213 ribu tenaga kerja, Ikmal dan Sella kini bisa bantu ekonomi keluarga.

Suarapena.com, BATANG – Masuknya investasi ke Jawa Tengah tidak hanya tercermin dari nilai penanaman modal yang mencapai puluhan triliun rupiah. Di balik angka tersebut, terdapat peluang kerja yang mulai mengubah kehidupan masyarakat.

Salah satunya dirasakan Muhammad Ikmal (20), warga Desa Binangun, Kecamatan Bandar, Kabupaten Batang.

Advertisement
Scroll untuk terus membaca

Setelah lulus SMA, Ikmal sempat bekerja serabutan sebagai kuli. Kondisinya berubah setelah mengikuti pelatihan di Balai Industri Produk Tekstil dan Alas Kaki (BIPTAK) milik Pemerintah Provinsi Jawa Tengah.

Selama 20 hari, Ikmal bersama ratusan calon pekerja mendapat pelatihan, makan, dan penginapan secara gratis.

Setelah menyelesaikan pelatihan, Ikmal ditempatkan sebagai operator printing di PT Yih Quan Footwear yang berada di Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Industropolis Batang.

Kini, setelah 10 bulan bekerja, Ikmal telah berstatus sebagai karyawan tetap. Penghasilannya juga telah melampaui UMK Batang.

Bagi Ikmal, pekerjaan tersebut bukan sekadar memberikan penghasilan. Ia kini dapat membantu memenuhi kebutuhan keluarganya.

“Dulu menjadi beban keluarga. Sekarang bisa bantu-bantu membeli keperluan rumah tangga,” kata Ikmal, Kamis (20/8/2026).

Ia bahkan menggunakan gaji pertamanya untuk membelikan cincin bagi sang ibu.

“Dengan gaji pertama saya, alhamdulillah saya bisa membelikan ibu saya cincin, yang mana perhiasan itu pernah dijual untuk keperluan saya sekolah,” ujarnya.

Kisah tersebut membuat Supriyati, ibu Ikmal, terharu. Selama ini, suaminya bekerja sebagai kuli untuk memenuhi kebutuhan keluarga.

Berita Terkait:  Sultan: Investasi di DIY Harus Utamakan Kelestarian Lingkungan

Karena itu, pekerjaan yang diperoleh Ikmal menjadi harapan baru bagi keluarganya.

“Saya kaget dan terharu, saat Ikmal memberi kejutan di hari pertama gajian, memberi saya cincin. Emak, tak paringi cincin,” kata Supriyati.

Cerita serupa dialami Sella Sefira, warga Desa Pesalakan, Kecamatan Bandar.

Setelah mengikuti pelatihan BIPTAK, Sella bekerja sebagai input printing di PT Yih Quan Footwear, perusahaan yang memproduksi alas kaki untuk sejumlah merek internasional, seperti HOKA dan Converse.

Sella mengatakan, penghasilannya kini dapat digunakan untuk membantu memenuhi kebutuhan keluarga.

“Kini bisa bantu-bantu kebutuhan, seperti beli token listrik dan bantu sekolahkan adik juga,” ujarnya.

Ia mengatakan, gaji pertamanya diberikan kepada orangtua. Sebagian lainnya digunakan untuk memperbaiki telepon selulernya.

Kisah Ikmal dan Sella menjadi gambaran dampak investasi terhadap penyerapan tenaga kerja di Jawa Tengah.

Berdasarkan data Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Jawa Tengah, realisasi investasi pada semester I 2026 mencapai Rp 48,54 triliun.

Investasi tersebut berasal dari 55.989 proyek dan menyerap 213.217 tenaga kerja.

Pada saat yang sama, data Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat jumlah penduduk yang bekerja di Jawa Tengah pada Mei 2026 mencapai 21,40 juta orang.

Jumlah tersebut meningkat 16,36 ribu orang dibandingkan Februari 2026.

Indikator lainnya juga menunjukkan adanya perbaikan kondisi sosial ekonomi masyarakat.

Jumlah penduduk miskin di Jawa Tengah pada Maret 2026 tercatat 3,29 juta orang atau 9,21 persen. Angka itu turun 59.390 orang dibandingkan September 2025 dan berkurang 81.250 orang dibandingkan Maret 2025.

Berita Terkait:  Catatan Kritis Putra Nababan Soal Kesenjangan Investasi dan Utilisasi Produksi Nasional

Adapun ekonomi Jawa Tengah tumbuh 5,71 persen pada triwulan II 2026.

Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi mengatakan, pembangunan tidak boleh hanya mengejar pencapaian angka investasi.

Menurut dia, investasi harus memberikan dampak nyata bagi masyarakat, terutama melalui penciptaan lapangan kerja.

Program pelatihan di BIPTAK menjadi salah satu upaya Pemerintah Provinsi Jawa Tengah untuk meningkatkan keterampilan masyarakat agar dapat memenuhi kebutuhan tenaga kerja industri.

Pelatihan tersebut juga diarahkan untuk membantu masyarakat keluar dari kemiskinan dan mengurangi pengangguran.

Selain meningkatkan kualitas sumber daya manusia, Pemprov Jawa Tengah terus mendorong pengembangan kawasan industri di sejumlah daerah.

Pengembangan kawasan industri dilakukan dengan memperkuat infrastruktur sekaligus memberikan kemudahan bagi investor.

“Investasi tidak hanya meningkatkan nilai penanaman modal, tetapi juga membuka kesempatan kerja dan mendorong pertumbuhan ekonomi,” kata Luthfi.

Pada usia Jawa Tengah yang memasuki 81 tahun, pemerintah daerah berharap pertumbuhan investasi dapat semakin banyak dirasakan masyarakat.

Bagi Ikmal dan Sella, ukuran keberhasilan investasi itu sederhana: pekerjaan yang membuatnya mampu berdiri sendiri dan membantu keluarga.

Kini, dari penghasilan yang diterimanya setiap bulan, ia tak lagi sekadar menjadi pencari kerja. Ia telah menjadi salah satu tenaga kerja yang ikut menggerakkan industri sekaligus membantu perekonomian keluarganya. (sp/pr)

error: Content is protected !!

Eksplorasi konten lain dari Suarapena.com | Suara Pena Mata Hati Bangsa

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca