Suarapena.com, SEMARANG – Perayaan Tahun Baru Imlek di Kawasan Pecinan Semarang kian menunjukkan wajah inklusif. Pasar Imlek Semawis 2026 yang digelar, dipadati masyarakat dari berbagai etnis dan agama.
Kegiatan yang berlangsung dari Gang Pinggir hingga Jalan Wotgandul Timur itu turut dihadiri Wakil Presiden RI Gibran Rakabuming Raka dan Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi.
Keduanya tampak berkeliling menyapa warga dan meninjau sejumlah stan kuliner serta UMKM. Wapres juga terlihat melayani permintaan swafoto dari pengunjung dan sempat berbelanja di beberapa tenant.
Pengurus Komunitas Pecinan Semarang untuk Pariwisata (Kopi Semawis), Harjanto Halim, mengatakan Pasar Imlek Semawis merupakan upaya menghidupkan kembali tradisi lama masyarakat Tionghoa di Semarang menjelang Imlek.
“Dulu, warga Tionghoa berbelanja sampai malam, tetapi hanya satu malam. Kemudian tradisi itu dihidupkan kembali menjadi perayaan tiga hari dalam bentuk Pasar Imlek Semawis,” ujar Harjanto, Senin (16/2/2026).
Ia menjelaskan, kegiatan tersebut tidak hanya menghadirkan jajanan pasar, tetapi juga kuliner, produk UMKM, pernak-pernik, serta pertunjukan budaya dan kegiatan sosial.
Pada penyelenggaraan tahun ini, panitia menampilkan kolaborasi budaya dengan menghadirkan tokoh mitologi Tionghoa seperti Sun Go Kong dan Dewi Kwan Im yang dipadukan dengan tokoh wayang Jawa.
Selain itu, panitia juga menyediakan makanan muslim Tionghoa yang didatangkan dari Xinjiang. Pengunjung turut diimbau mengenakan kebaya sebagai bentuk apresiasi terhadap budaya lokal.
Harjanto menyebut keberagaman di kawasan Pecinan Semarang sudah seperti “Indonesia mini”. Ia mencontohkan keberadaan pedagang nasi ayam Bu Pini, warga etnis Jawa, yang mampu berkembang dan memiliki ruko di kawasan tersebut.
“Beliau orang Jawa dan bisa bersaing dengan pedagang Tionghoa di Pecinan. Kalau rasanya enak dan harganya terjangkau, pasti laku,” katanya.
Sementara itu, Gubernur Ahmad Luthfi menyampaikan tradisi yang sudah berkembang perlu terus dilestarikan. Ia juga mendukung rangkaian kegiatan Imlek lainnya di Kota Semarang, termasuk yang digelar di Klenteng Sam Poo Kong.
Menurut dia, banyaknya agenda budaya akan berdampak positif terhadap pertumbuhan pariwisata di Kota Semarang dan Jawa Tengah.
“Ini menunjukkan bahwa toleransi dan keberagaman di Jawa Tengah sangat kuat dan menjadi bagian penting dalam pembangunan daerah,” kata Luthfi. (sp/pr)










