“Merdeka atau Mati”. Rakyat Surabaya seperti memiliki amunisi dan tenaga yang menakjubkan, sebuah perlawanan yang mengintimidasi dan menggetarkan musuh. Bahkan para pelajar dan santri tak luput menunjukkan ghiroh dalam pertempuran melawan kaum kafir penjajah itu.
Pemimpin dan Islam Progressif Revolusioner
Setelah 75 tahun berlalu, setiap peringatan hari pahlawan sebelumnya seperti senyap dalam kesunyian. Kehilangan makna dan nilai-nilai terhadap nasionalisme dan patriotisme. Kemerdekaan yang dulunya diperjuangkan dan dipertahankan dengan pengorbanan yang begitu besar, seakan meredup, perlahan hilang tak berbekas.
Kemerdekaan Indonesia yang dihasilkan oleh perjuangan seluruh rakyat dan atas Berkat Rahmat Allah itu, seakan tidak dihargai dan dicampakkan oleh bangsanya sendiri. Tidak negara, tidak juga para pahlawan mendapat perlakuan dan penghormatan yang layak. Negara dulu dijajah, kini negara yang diurus oleh segelintir politisi dan pejabat tak ubahnya berlaku sebagai penjajah bagi rakyatnya sendiri. Begitu juga dengan para pahlawan terdahulu, mimpinya, harapannya, cita-cita dan warisannya seperti sia-sia dan tak berujung. Tangis dan darah tertumpah lagi menghadapi kekuasaan yang acapkali gagal membawa kemakmuran dan keadilan sosial, sembari membungkam kedaulatan rakyat, mengebiri demokrasi dan memusuhi Islam.
Tepat 10 November 2020, ada peringatan hari pahlawan yang tidak biasanya. Seiring dilanda pandemi, kemerosotan ekonomi dan banyaknya perilaku hipokrat para politisi dan pejabat. Publik dikejutkan oleh kepulangan seorang Imam Besar FPI Habib Rizieq Shihab, seorang ulama Indonesia yang mengungsi ke Arab Saudi akibat “tekanan politik dan kriminalisasi” rezim kekuasaan.










