Scroll untuk baca artikel

HeadlinePena Kita

Kepahlawanan Dalam Rahim Islam Progressif

×

Kepahlawanan Dalam Rahim Islam Progressif

Sebarkan artikel ini
yusuf blegur

Oleh: Yusuf Blegur, Aktifis Ikatan Pekerja Sosial Masyarakat

10 November 1945, genap 75 tahun yang lalu.   Sebuah peristiwa heroik  mengiringi kemerdekaan Republik Indonesia yang baru saja diproklamirkan. Begitu mencekam, penuh konflik dan keharuan, tragis dan menyayat hati setiap sanubari  yang terlibat didalamnya. Rakyat sipil dan tentara menyatu, tak peduli orang tua, para pemuda bahkan anak-anak ikut bertempur   membuat Kota Surabaya membara.

Advertisement

Scroll untuk terus membaca

Rakyat Surabaya tak sekedar  menunjukkan perlawanan, mereka rela menumpahkan darah dan meregang nyawa untuk membuktikan kecintaan kepada Kota Surabaya sebagai bagian dari tanah air Indonesia. Arek-arek Suraboyo itu juga mengobarkan militansi dan mental revolusioner menentang penjajahan asing.

Berita Terkait:  Tangkal Serangan Hacker, Anggaran BSSN Disetujui Rp624 Miliar

Tragedi peperangan sekaligus peristiwa patriotik itu, begitu historis dan menggoncang dunia yang era itu banyak diliputi peperangan. Menarik dan istimewanya, peristiwa 10 November sesungguhnya menggambarkan peperangan yang tidak seimbang. Selain menghadapi Belanda yang ingin menguasai kembali Indonesia, rakyat Surabaya juga harus menghadapi tentara Inggris yang didukung sekutu. Belum lagi perlawanan rakyat Surabaya yang sedikit jumlahnya dibandingkan musuh, mereka juga digempur oleh persenjataan yang lengkap dan modern dari negara-negara fasis yang notabene ikut menggerakkan perang dunia ke-2. Sementara tentara keamanan rakyat bersama penduduk Surabaya menggunakan senjata sederhana dan bambu runcing yang fenomenal.

Berita Terkait:  Jabar Rencanakan Pembentukan Dewan Pengawas Pesantren

Namun peristiwa yang dipicu   perobekan bendera Belanda oleh pemuda Surabaya dan tewasnya jenderal Inggris serta ultimatum Inggris yang ditolak rakyat Surabaya. Telah memunculkan  gerakan Fisabilillah di kalangan umat Islam. Para ulama menyerukan jihad yang membangkitkan dan menggelorakan perlawanan terhadap imperialisme dan kolonialisme berwajah penjajahan. Melalui Ijtima  ulama, lahirlah seruan Hubbul Wathan Minal Iman (mencintai tanah air sebagian dari iman) hingga menggerakkan revolusi yang ditopang umat Islam. Seorang pemuda bernama Soetomo (Bung Tomo), setelah mendapat petunjuk dari para kyai dan ulama berpidato berapi-api dengan Takbir “Allahu Akbar” dan pekik.

error: Content is protected !!

Eksplorasi konten lain dari Suarapena.com | Suara Pena Mata Hati Bangsa

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca