Soal kepulangannya biasa saja, yang luar biasa dan menarik adalah sambutan untuk beliau begitu besar dan mendapat antusias yang tinggi dari umat Islam. Hal itu seakan menjadi refleksi sekaligus momentum kesadaran akan posisioning umat dan ulama dalam konstelasi kebangsaan sekarang ini. Kepulangan HRZ seperti mengobati kerinduan umat terhadap kehadiran sosok pemimpin Islam. Apalagi ditengah gempuran rekayasa politik yang mendegradasi nilai-nilai Islam. Selain cap dan stigma radikalisasi, fundamentalisme, agama Islam terus digiring pada pencitraan agama teroris oleh pemerintah sendiri maupun dunia barat. Seperti yang baru saja disuarakan presiden Perancis.
Ironisnya, negeri yang tumbuh dan besar dalam rahim Islam melalui perjuangan dan konsensus nasional yang bersumber pada Ijtihad dan Ijma para Ulama. Islamlah yang sejatinya konsisten merawat kemajemukan dan kebhinnekaan Indonesia. Dalam sejarah ketidakadilan sosial ekonomi, dalam belenggu politik dan keamanan, serta hukum yang memarginalkan umat Islam yang ditulis kekuasaan. Umat Islam tetap istiqomah dan bersetia menjaga keutuhan Indonesia. Justru perilaku kekuasan terlihat sering menyudutkan dan cenderung bertindak bengis terhadap umat dan para Ulama hingga kini.
Pemerintah terus menikmati berada dalam zona nyaman dan cenderung menjadikan sekulerisme sebagai harga mati dalam praktek-praktek kenegaraan. Kebijakan liberalisasi dan kapitalisasi menjadi mainstream yang dibungkus jargon NKRI, UUD 1945 dan Panca Sila. Disisi lain, Islam dianggap sebagai potensi ancaman terhadap keberlangsungan hidup yang berlandaskan materialisme dan hedonisme. Dalam hal ini, birokrasi dan politisi yang menjadi subkoordinat dari pemilik modal dan kelompok “The Have” nyaman dengan wajah demokrasi liberalnya.
Semoga saja, rezim kekuasan melek dan eling, bahwasanya tekanan dan penindasan terhadap umat dan para ulama semakin membuat pemerintah kehilangan legalitas dan legitimasi dalam institusi negara. Begitupun behavior yang dimunculkan dalam sikap dan tindakan kepemimpinan yang anti Islam hanya akan membawa petaka bagi dirinya, baik dalam tatanan sosial maupun aqidah, baik dalam kehidupan dunia maupun akhirat.










