Suarapena.com, JAKARTA – Aktivitas penularan Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) yang disebabkan virus Influenza Tipe A H3N2 Subclade K atau dikenal sebagai Superflu dilaporkan meningkat secara global sejak Agustus 2025. Meski demikian, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyatakan belum ada indikasi peningkatan tingkat keparahan penyakit akibat virus tersebut.
Superflu disebut memiliki tingkat penyebaran yang relatif lebih cepat dibandingkan influenza musiman lainnya. Kondisi ini mendorong sejumlah negara, termasuk Indonesia, untuk meningkatkan kewaspadaan.
Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinas Kesehatan DKI Jakarta Sri Puji Wahyuni mengatakan, meskipun hingga kini belum ditemukan kasus Superflu di Jakarta, masyarakat tetap diminta waspada terhadap potensi penularan ISPA.
“Warga Jakarta harus tetap waspada dan menjaga kesehatannya, mengingat mobilitas penduduk yang cukup tinggi setelah libur Natal dan Tahun Baru serta sudah dimulainya musim penghujan,” ujar Sri, Selasa (6/1/2026).
Berdasarkan hasil Whole Genome Sequencing (WGS) sampel pasien influenza yang dirilis Kementerian Kesehatan pada 1 Januari 2026, Superflu diketahui telah beredar di Indonesia sejak Agustus 2025. Virus ini tercatat menyebar di delapan provinsi, yakni Jawa Timur, Kalimantan Selatan, Jawa Barat, Sumatra Selatan, Sumatra Utara, Jawa Tengah, Sulawesi Utara, dan Daerah Istimewa Yogyakarta.
“Pada data tersebut, hingga saat ini tidak ditemukan kasus Superflu di Provinsi DKI Jakarta,” kata Sri.
Ia menjelaskan, tren kasus ISPA dan pneumonia di DKI Jakarta justru menunjukkan penurunan pada akhir 2025. Dari puncak 309.532 kasus pada Oktober 2025, jumlah kasus menurun menjadi 216.312 pada Desember 2025. Sementara itu, kasus Influenza A tercatat turun signifikan dari 80 kasus pada Oktober menjadi tiga kasus pada Desember.
Untuk mendeteksi dini potensi penyebaran, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta terus menjalankan pemantauan melalui sistem sentinel kasus Influenza-Like Illness (ILI) dan Severe Acute Respiratory Infection (SARI) di lima puskesmas di setiap kota serta satu rumah sakit rujukan.
“Seluruh fasilitas pelayanan kesehatan di DKI Jakarta juga telah diinformasikan untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap Superflu, termasuk mengenali gejala dan memperkuat upaya promotif serta preventif, khususnya untuk ISPA dan pneumonia,” ujarnya.
Dinas Kesehatan DKI Jakarta mengimbau masyarakat untuk menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat, antara lain dengan rutin mencuci tangan menggunakan sabun, memakai masker saat sakit, menerapkan etika batuk, menghindari menyentuh wajah, menjaga asupan gizi seimbang, minum air putih minimal dua liter per hari, istirahat cukup, dan berolahraga secara teratur.
Selain itu, masyarakat diminta segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan apabila mengalami gejala yang mengarah pada pneumonia, seperti napas cepat, tarikan dinding dada ke dalam, atau saturasi oksigen di bawah 92 persen.
“Jika keluhan berlanjut atau memberat, segera kunjungi fasilitas kesehatan,” kata Sri. (sp/bj)










