Scroll untuk baca artikel

Suara Jateng

Panen Raya Dimulai, Harga Beras di Jateng Stabil dalam Sepekan?

×

Panen Raya Dimulai, Harga Beras di Jateng Stabil dalam Sepekan?

Sebarkan artikel ini
Panen raya di sejumlah daerah di Jawa Tengah telah dimulai. (Foto/Ilustrasi)
Panen raya di sejumlah daerah di Jawa Tengah telah dimulai. (Foto/Ilustrasi)

Suarapena.com, BATANG – Panen raya padi di wilayah Jawa Tengah sudah dimulai di beberapa daerah.

Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo berharap dimulainya musim panen ini akan membantu menstabilkan harga beras dalam satu pekan.

Advertisement

Scroll untuk terus membaca

“Sekarang kami cek, berdasarkan data dan informasi yang ada, ternyata sudah mulai panen. Dinas kami, saya minta untuk memetakan seluruh Jawa Tengah, potensi yang sudah panen di mana saja.

Baru saja jalan ke sini tadi, ada laporan dari Kebumen, katanya sudah mulai panen raya. Nah, nanti akan saya tengok juga,” kata Ganjar usai meninjau panen padi di Desa Krengseng, Kecamatan Gringsing, Kabupaten Batang, Sabtu (11/2/2023).

Di Kabupaten Batang sendiri, panen ini sudah dimulai sejak beberapa hari terakhir. Namun, faktor cuaca yang kurang bagus masih menjadi kendala.

Menurut Ganjar, kondisi panen seperti ini harus dikelola dengan baik secara bersama-sama. Masalah cuaca yang menjadi kendala pada saat pengeringan padi, dapat diatasi dengan menggunakan mesin pengering.

Berita Terkait:  Dinsos Jateng Katakan Logistik bagi Warga Terdampak Banjir Rob Aman

“Harga panen padi atau gabah kering lebih tinggi, dan membuat petani senang, maka harus dikelola dengan baik. Saya minta untuk menghitung ulang, berapa biaya yang dipakai.

Mulai dari gabah kering panen, kemudian sampai gabah kering giling, sampai jadi harga beras. Dengan cara ini, kita sebenarnya bisa menghitung semua,” tutur Ganjar.

Ganjar menerangkan, penghitungan harga panen hingga menjadi beras, ditambah kalkulasi hasil panen padi di seluruh daerah, akan menjadi acuan mengukur stok beras di pasar.

Ia memprediksi dalam satu pekan ini kondisi pasar sudah dibanjiri beras, dan inflasi akan terkendali.

“Kalau hari ini mulai panen, pengalaman pemrosesan mulai dari mereka yang membeli gabah tadi itu, butuh waktu kurang lebih satu minggu. Maka sebenarnya kita bisa hitung luas panennya berapa, satu minggu ke depan itu ada gabah berapa, ada padi berapa.

Sebenarnya pasar sudah bisa dibanjiri. Maka dalam konteks inflasi, mestinya ini sudah mulai bisa terkendali,” ungkapnya.

Berita Terkait:  Disnakkeswan Jateng Antisipasi Penyakit Rabies dari Anjing Selundupan

Batasan harga padi maupun beras dikatakan Ganjar, juga harus tetap dijaga di atas HPP sebesar Rp4.300 per kilogram. Saat ini, harga yang dibeli dari petani berkisar antara Rp5.500-Rp5.600 per kilogran. Harga itu dinilai sudah tinggi untuk petani.

“Harga gabah kering panen sekarang sudah Rp5.500-Rp5.600 (per kilogram). Tinggi lho, sudah bagus. Tapi setelah panen raya bisa saja turun, makanya kita tahan jangan sampai menyentuh HPP Rp4.300 atau di bawahnya. Penurunan harus wajar, ini yang perlu dijaga,” tegasnya.

Terakhir, Ganjar pun meminta agar Bulog segera menyerap hasil panen padi atau beras dari petani, agar stabilisasi harga beras dapat segera dilakukan.

“Serapannya biar lebih cepat, ini teman-teman dari Bulog juga siap agar stabilisasi harga bisa cepat dilakukan. Sehingga kalau cerita-cerita bakul yang mengatakan, banjir dan harga mahal, kami bisa tunjukkan sekarang berasnya nggak banjir dan jangan dipakai alasan,” pungkasnya. (Sp/Pr)

error: Content is protected !!

Eksplorasi konten lain dari Suarapena.com | Suara Pena Mata Hati Bangsa

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca