Suarapena.com, BOGOR – Alih-alih berbuah manis kala harga beras naik di pasaran sejumlah Petani di Desa Jonggol, Kecamatan Jonggol, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, justru meringis karena gabah yang mereka jual di beli murah oleh pengepul.
Betapa tidak, harga Gabah yang semestinya ikut terdongkrak naik malah kian melorot, sepekan lalu saja harga Gabah basah dari petani dijual hingga Rp 550 Ribu Per/kwintal. Kini hingga Jumat (10/2/2023) harganya turun diangka Rp 530 Ribu Per 100 Kilogramnya.
Petani pun mengaku heran saat kenaikan harga beras disebut minimnya stok hingga pemerintah harus mengimpor beras dari luar, padahal sudah lebih dari sepekan sejumlah area persawahan diwilayah ini sudah mulai panen raya.
“Kita (Petani) pun sudah banyak menjual gabah hasil panennya ke pengepul karena khawatir harga jual kian murah saat puncak panen raya di akhir februari hingga maret mendatang,” ungkap Sujaing seorang petani.
Meski harga gabah turun petani mengaku terpaksa menjual sebahagian hasil panen mereka untuk menutupi modal produksi yang kian mencekik. “Mulai dari biaya benih, membajak sawah, pupuk hingga ongkos panennya semakin mahal,” ujarnya.
“Untuk menggarap satu hektare sawah kita harus merogoh kocek hingga 9 Juta Rupiah untuk Bea produksi persatu periode masa tanam,” cetusnya.
Anehnya, dikala banyaknya stok gabah menjelang panen padi khusunya diwilayah timur kabupaten bogor ini kenapa harganya justru menurun padahal harga beras yang di jual di pasar sudah melambung drastis.
Di tengah realitas ambigu yang dialami petani ini mereka berharap pemerintah bisa lebih peka terhadap nasib para petani khususnya di wilayah terdekat dengan ibu kota yang lahannya semakin tergerus dengan maraknya pembangunan perumahan dan juga pabrik. Jika petani sejahtera mustahil lahan mereka dijual untuk keberlangsungan hidup mereka. (Yud)










