Suarapena.com, MAKASSAR – Pengayuh becak tidak banyak lagi ditemui saat ini. Banyaknya moda transportasi baru yang lebih modern tampaknya membuat Daeng Nassa (60) mulai kehilangan pelanggannya.
Memasuki musim penghujan ini, mencari sesuap nasi pun dirasakan semakin sulit baginya. “Dalam satu hari belum tentu saya dapat muatan atau penumpang,” keluhnya, saat ditemui, Rabu (12/10/2022).
Menurutnya, penarik becak di Kota Makassar saat ini hanya bisa dihitung dengan jari. Bagi mereka yang mempunyai kemampuan lain mungkin bisa beralih profesi, atau bahkan bagi mereka yang sudah berumur memilih berhenti menarik becak.
Tetapi hal berbeda dirasakan oleh Daeng Nassa. Pria asal Kabupaten Takalar, Desa Mangarabombang ini memang mencari nafkah di Makassar untuk bertahan hidup. Dalam satu bulan setidaknya ia harus mengeluarkan uang Rp.400 ribu untuk membayar sewa kontrakan.
“Saya cerai mati, anak-anak saya sudah besar bekerja jadi kuli, dan yang perempuan ikut suaminya masing-masing,” katanya.
Saat ini Daeng Nassa tinggal di rumah kontrakan di Jl. Andi Tonro, Lorong 5 Kota Makassar. Ia berharap mendapatkan solusi agar ia bisa mempunyai pendapatan, dan dapat bertahan hidup dengan bekerja.
Laporan: Sudirman










