Menurutnya, pesantren dalam membangun dan merawat UMKM sudah dimulai sebegitu lama, langkah selanjutnya adalah dengan mengorganisir, mengkapitalisasi, sehingga Pesantrenpreneur ini menjadi poros pemberdayaan ekonomi umat yang sangat penting untuk multikolaborasi antara Pesantren dengan Pemda, pelaku dunia usaha baik nasional maupun global.
“Alhamdulillah Kabupaten Bekasi memiliki spesifikasi dan potensi sangat besar karena pesantren-pesantren yang ada di Kabupaten Bekasi tumbuh dan berkembang di sekitar kawasan industri, hampir sepuluh ribu perusahaan. Saya kira itu sangat besar dengan jumlah pesantren yg kurang lebih seribu,” jelasnya.
“Untuk Pesantren Industri Kreatif misalnya, tentu ada pemetaan kawasan industri kemudian dengan pesantren-pesantren yang ada di sekitar kawasan tersebut dibangun kolaborasi, di fasilitasi Pemda sesuai dengan potensi dan pengembangan usahanya,” lanjutnya.
Fuad berpesan, pihak pesantren harus mempersiapkan tim manajemen yang handal dan profesional. Sehingga kedepan, dapat berkolaborasi dengan pelaku usaha untuk mengembangkan Pesantren menjadi Starter Up.
“Melalui program CSR, di lingkungan pesantren dapat dibuat inkubator bisnis, manajemen bisnis, dan juga pelatihan usaha. Sehingga ke depan baik santri, guru, ustadz/ustadzah dapat kita berikan sertifikasi pendidikan dan pelatihan (Diklat) sebagai modal awal untuk mengembangkan gagasan atau ide entrepreneur dalam dirinya,” tutupnya. (Hms/sng)










