Scroll untuk baca artikel

SejarahSuara Jogja

Sejarah Singkat Bergabungnya Kesultanan Ngayogyakarta ke Pelukan NKRI

×

Sejarah Singkat Bergabungnya Kesultanan Ngayogyakarta ke Pelukan NKRI

Sebarkan artikel ini
Bergabungnya Kesultanan Ngayogyakarta ke NKRI
Sri Sultan Hamengkubuwono IX bersama Bung Karno di Bangsal Sitihinggil, Keraton Yogyakarta. (Dok. BPAD DIY)

Suarapena.com, JOGJA – Kesultanan Ngayogyakarta Hadiningrat adalah salah satu kerajaan yang berdiri di Pulau Jawa sejak abad ke-18. Kerajaan ini dipimpin oleh Sultan Hamengkubuwono, yang merupakan keturunan dari Raja Mataram, Sultan Agung. Kerajaan ini memiliki hubungan istimewa dengan Belanda, yang mengakui kedaulatan dan otonomi daerahnya.

Namun, ketika Belanda digantikan oleh Jepang sebagai penjajah baru pada tahun 1942, Kesultanan Ngayogyakarta tidak tinggal diam. Sultan Hamengkubuwono IX, yang naik tahta pada tahun 1940, adalah seorang nasionalis yang mendukung perjuangan kemerdekaan Indonesia. Ia menolak untuk bekerja sama dengan Jepang dan melindungi rakyatnya dari eksploitasi dan kerja paksa.

Advertisement

Scroll untuk terus membaca

Sultan Hamengkubuwono IX juga menjalin hubungan baik dengan para pemimpin pergerakan nasional, seperti Soekarno dan Hatta. Ia mengucapkan selamat kepada mereka atas Proklamasi Kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus 1945.

Berita Terkait:  Jogja, Kota Istimewa yang Penuh Pesona

Ia juga menyatakan bahwa Kesultanan Ngayogyakarta adalah bagian dari Republik Indonesia dalam sebuah amanat tertulis pada 5 September 1945.

Dengan demikian, Kesultanan Ngayogyakarta menjadi daerah istimewa pertama yang bergabung dengan Indonesia. Sultan Hamengkubuwono IX juga menjadi wakil presiden pertama Indonesia, bersama dengan Mohammad Hatta.

Berita Terkait:  Jogja, Kota Istimewa yang Penuh Pesona

Ia berperan penting dalam mempertahankan kedaulatan Indonesia, terutama ketika Yogyakarta menjadi ibu kota sementara setelah Belanda menyerang Jakarta pada tahun 1948.

Sultan Hamengkubuwono IX adalah seorang pahlawan nasional yang mengorbankan kepentingan kerajaannya demi kepentingan bangsanya. Ia juga seorang pemimpin yang demokratis, sederhana, dan disiplin.

Ia meninggal pada tahun 1988 dan dimakamkan di kompleks makam raja-raja Mataram di Imogiri. Warisannya tetap dihormati oleh rakyat Yogyakarta dan Indonesia. (sng)

error: Content is protected !!

Eksplorasi konten lain dari Suarapena.com | Suara Pena Mata Hati Bangsa

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca