Suarapena.com, GUNUNGKIDUL – Walang goreng atau belalang goreng masih menjadi salah satu kuliner khas yang identik dengan Kabupaten Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta. Cita rasanya yang gurih dan renyah membuat makanan ini tetap diburu wisatawan sebagai oleh-oleh maupun camilan khas daerah.
Namun, di balik eksistensinya sebagai ikon kuliner Gunungkidul, para penjual walang goreng menghadapi berbagai tantangan, mulai dari menurunnya jumlah pembeli hingga semakin sulitnya memperoleh bahan baku.
Salah seorang penjual, Surya, mengaku telah menekuni usaha walang goreng sejak tahun 2002. Awalnya, usaha tersebut hanya dijadikan pekerjaan sampingan. Namun seiring waktu, jualan walang goreng justru menjadi sumber penghasilan utama bagi dirinya dan keluarga.
“Awalnya dulu hanya untuk sampingan. Lama-lama karena banyak yang suka dan saya juga sudah nyaman menjalankannya, akhirnya menjadi usaha utama sampai sekarang,” kata Surya, Senin (1/6/2026).
Meski telah bertahan lebih dari 20 tahun, Surya mengatakan usahanya tidak selalu berjalan mulus. Tingkat penjualan sangat bergantung pada ramainya kunjungan wisatawan yang melintas di jalur utama menuju kawasan wisata pantai selatan Gunungkidul.
“Kadang pernah sehari tidak membawa uang karena memang sepi pembeli. Tetapi sejauh ini masih ada untungnya, alhamdulillah,” ujarnya.
Saat ini Surya hanya menjual walang goreng dari jenis belalang padi. Padahal, ketika pertama kali berjualan, ia juga menjual belalang kayu yang memiliki ukuran lebih besar.
Menurut dia, belalang kayu kini semakin sulit ditemukan di alam sehingga para pedagang lebih banyak mengandalkan belalang padi sebagai bahan baku utama.
“Dulu masih mudah mencari belalang kayu. Sekarang sehari mencari belum tentu dapat setengah kilogram. Sudah jarang sekali,” kata Surya.
Untuk mendapatkan belalang padi, perburuan biasanya dilakukan pada malam hari menggunakan bantuan cahaya senter. Cara tersebut dinilai lebih efektif karena belalang cenderung diam saat terkena sorotan cahaya.
“Kalau siang biasanya langsung meloncat dan kabur. Kalau malam justru diam ketika terkena senter sehingga lebih mudah ditangkap,” ujarnya.
Dalam sekali berburu, hasil tangkapan rata-rata dapat mencapai satu botol air mineral ukuran besar. Belalang yang terkumpul kemudian dibersihkan dan diolah sebelum dijual.
Surya mengatakan proses pengolahan walang goreng relatif sederhana. Belalang yang telah dibersihkan direndam menggunakan campuran bawang putih, garam, dan penyedap rasa, kemudian digoreng hingga kering dan renyah.
Ia menyediakan dua varian rasa, yakni gurih dan pedas.
Dari satu kilogram belalang padi, Surya dapat menghasilkan sekitar delapan toples walang goreng siap jual. Setiap toples dipasarkan dengan harga Rp 30.000.
Sementara itu, harga belalang padi mentah yang dibeli dari pemburu mencapai Rp 150.000 per kilogram.
Pada hari biasa, Surya mampu menjual sekitar 15 hingga 20 toples. Adapun saat akhir pekan atau musim liburan, penjualan dapat meningkat hingga sekitar 50 toples per hari untuk setiap pedagang.
“Kalau hari libur memang lebih ramai. Tetapi sekarang menjual 30 toples sehari saja cukup sulit dibandingkan dulu,” kata dia.
Menurut Surya, walang goreng masih memiliki banyak peminat meski sebagian orang menganggapnya sebagai makanan ekstrem. Selain dikenal sebagai kuliner khas daerah, makanan tersebut juga dipercaya memiliki kandungan protein yang tinggi.
Tidak hanya dijual di lapak, produk yang dibuat Surya juga dipasarkan ke sejumlah pusat oleh-oleh di Gunungkidul.
“Masuk ke sekitar empat sampai lima pusat oleh-oleh,” ujarnya.
Dalam kesehariannya, Surya mulai berjualan sejak pukul 08.00 WIB hingga 16.30 WIB. Khusus pada akhir pekan, ia biasanya berjualan hingga sekitar pukul 18.00 WIB.
Ia menjelaskan, walang goreng dapat bertahan renyah hingga dua pekan apabila disimpan dalam wadah tertutup rapat setelah dibuka. Jika ingin disajikan kembali dalam kondisi hangat, cukup dipanaskan menggunakan api kecil.
Surya menuturkan, terdapat sekitar 15 pedagang walang goreng di sepanjang Jalan Jogja-Wonosari yang berasal dari kampung yang sama dengannya. Meski menghadapi berbagai tantangan, ia bersyukur usaha kuliner tradisional tersebut masih mampu bertahan hingga kini.
“Bersyukur masih bisa jalan sampai sekarang. Semoga ke depan tetap ada yang mencari dan kuliner khas ini bisa terus bertahan,” kata Surya. (sp/han)










