Suarapena.com, JAKARTA – Diskusi interaktif yang diselenggarakan oleh Pustaka Institute Indonesia bertajuk “Menuju Indonesia Maju: Refleksi Pencapaian Pemerintahan Presiden Prabowo Semester I Tahun 2025” berlangsung hidup di Kafe Jakarta Connection, pada Selasa (8/7/2025) kemarin.
Acara ini mengundang perhatian berbagai kalangan, dari mahasiswa, komunitas profesional muda, hingga organisasi kepemudaan, yang ingin menggali capaian dan tantangan pemerintahan Presiden Prabowo Subianto selama enam bulan pertama masa jabatannya.
Diskusi menghadirkan tiga pembicara lintas perspektif: Hendarsam Marantoko, politisi Partai Gerindra; Hadi Suprapto, pengamat politik; dan Desviyan Badransyah, akademisi. Mereka memberikan pandangan mendalam sekaligus kritis terhadap langkah-langkah pemerintah di tengah dinamika nasional dan global.
Hendarsam Marantoko mengapresiasi kepemimpinan Presiden Prabowo sebagai sosok strong man yang membawa semangat revolusi fundamental bagi negara. Menurut Hendarsam, visi besar Presiden, yang sejatinya telah tertuang dalam berbagai karyanya, kini mulai nyata dirasakan masyarakat, khususnya di sektor ketahanan pangan dan energi.
Ia menyoroti keberhasilan Presiden Prabowo memutus rantai tengkulak dan pengelolaan distribusi energi yang makin teratur, serta peran strategis Koperasi Merah Putih dalam menyampaikan subsidi tepat sasaran. Hendarsam juga menegaskan karakter pemerintahan yang berpegang pada 3B: berdikari, berdaulat, dan bargaining position kuat.
Meski begitu, Hendarsam mengingatkan bahwa semua capaian tersebut membutuhkan proses dan waktu. “Tentu ini membutuhkan proses dan waktu ya, terlebih program pembangunan sumber daya manusia melalui Program Makan Bergizi Gratis (MBG) dan pendirian sekolah rakyat diprediksi akan memberikan dampak signifikan dalam 10–15 tahun ke depan,” ungkapnya.
Sementara itu, Hadi Suprapto menyoroti perbedaan persepsi antara elite politik dan masyarakat dalam menilai kinerja pemerintah. Berdasarkan survei Indikator Politik Indonesia (IPI), tingkat kepercayaan publik terhadap Presiden Prabowo dan TNI masih tinggi dengan angka kepuasan di atas 80 persen.
Namun, Hadi mengingatkan perlunya sinergi kuat antara seluruh jajaran kabinet agar visi Presiden bisa berjalan mulus. Ia juga menggarisbawahi pentingnya mengatasi tantangan pengangguran yang masih mengintai dan mengapresiasi kiprah Prabowo di kancah politik global.
“Pak Prabowo tidak pernah ingin berpuas diri, evaluasi terus dilakukan agar citra positif juga diikuti kinerja menteri dan pelaksana program,” tegas Hadi.
Dari sudut pandang akademisi, Desviyan Badransyah menilai Presiden Prabowo sebagai pemimpin independen yang tangguh menghadapi tantangan global dan berpotensi memperkuat ekonomi nasional. Ia menyoroti inflasi yang relatif terkendali pada semester pertama 2025, meskipun tantangan lapangan kerja masih harus diatasi secara serius. Desviyan optimistis dengan proyeksi lembaga riset internasional yang memposisikan Indonesia sebagai kekuatan ekonomi nomor tujuh dunia pada 2045.
“Tapi, disamping itu, kestabilan politik dan demokrasi yang matang juga menjadi kunci kemajuan bangsa. Di sinilah peran generasi muda sangat vital untuk menjaga proses politik agar tetap sehat, damai, dan produktif,” jelasnya.
Diskusi semakin menarik dengan sesi tanya jawab interaktif, di mana isu seperti Program MBG, pengangguran, dan kredibilitas pejabat negara diangkat. Para pembicara sepakat bahwa semua tantangan harus dihadapi secara holistik dengan semangat nasionalisme dan menegakkan nilai persatuan, sesuai dengan sila ketiga Pancasila.
“Semangat persatuan harus terus dijaga agar visi besar Presiden Prabowo bisa terwujud,” tutup salah satu narasumber. (sp/pr)










