“Saya pada prinsipnya kembalikan pada mekanisme pemilihan tahun 2017 kemarin. Kan yang mempunyai hak itu koalisi parpolnya. Koalisi parpol ini belum sepakat dari rekomendasi dua nama, Golkar jadi tiga nambah Amin Fauzi, NasDem ada Rohim Mintareja, Hanura hanya Marzuki saja, ditambah di Parlemen nggak ada kursinya kan,” ulas Soleh.
Ia menambahkan rekomendasi dua nama yakni Ahmad Marzuki dan Tuti yasin yang terkesan tergesa-gesa berpotensi menimbulkan konflik.
“Ada konflik di daerah terkait dengan putra daerah dengan non putra daerah. Kita sih orang Bekasi, harapannya orang Bekasi lah yang dampingi Pak Eka. Dua nama yang direkomendasikan, saya khawatirkan bakal terjadi Conflict of Interest yang tinggi. Dari figur yang muncul ini, kelebihannya pun nggak ada,” ujar dia.
Soleh mengusulkan agar partai koalisi, terutama Partai Golkar kembali menjalankan proses seleksi di internal partai dengan mekanisme yang benar. Sebab, menurut informasi yang ia terima, selain dua nama yang direkomendasikan, ada beberapa nama yang ikut mendaftar jadi wakil bupati tapi mengaku tidak dilibatkan dalam penyeleksian yang jelas.










