Suarapena.com, JAKARTA – Film V for Vendetta adalah sebuah film aksi thriller distopia yang disutradarai oleh James McTeigue pada tahun 2006. Film ini diadaptasi dari seri komik terbatas berjudul sama karya Alan Moore, David Lloyd, dan Tony Weare yang diterbitkan oleh DC Vertigo Comics pada tahun 1988-1989.
Film ini mengisahkan tentang V (diperankan oleh Hugo Weaving), seorang pejuang kebebasan anarkis dan bertopeng yang berusaha untuk menggulingkan rezim totaliter dan fasis yang menguasai Inggris di masa depan, dengan bantuan Evey Hammond (diperankan oleh Natalie Portman), seorang wanita muda yang terlibat dalam misi V. Stephen Rea memerankan seorang detektif yang berusaha untuk mengungkap identitas sebenarnya dari V.
Film ini memiliki hubungan dengan tanggal 5 November, yang merupakan hari peringatan Guy Fawkes Night atau Bonfire Night di Inggris. Guy Fawkes adalah salah satu anggota dari Kelompok Bubuk Mesiu (Gunpowder Plot), sebuah konspirasi Katolik yang berencana untuk meledakkan gedung Parlemen Inggris pada tahun 1605, sebagai protes terhadap penindasan terhadap umat Katolik oleh Raja James I.
Namun, rencana tersebut digagalkan dan Guy Fawkes ditangkap saat sedang menjaga mesiu di ruang bawah tanah gedung Parlemen. Ia kemudian disiksa dan dieksekusi bersama dengan para konspirator lainnya. Sejak itu, setiap tanggal 5 November, orang-orang Inggris merayakannya dengan membakar boneka Guy Fawkes dan kembang api.
Dalam film V for Vendetta, V menggunakan topeng Guy Fawkes sebagai simbol perlawanan terhadap tirani pemerintah. Ia juga meniru rencana Kelompok Bubuk Mesiu dengan meledakkan gedung Old Bailey, sebuah pengadilan kriminal terkenal di London, pada tanggal 5 November.
Ia kemudian mengancam akan meledakkan gedung Parlemen pada tanggal 5 November tahun berikutnya, dan mengajak rakyat untuk bergabung dengan revolusinya. Film ini menampilkan adegan-adegan spektakuler dari ledakan-ledakan tersebut, serta aksi-aksi V dalam melawan pasukan keamanan pemerintah. Film ini juga mengeksplorasi tema-tema seperti ideologi politik, identitas, kebebasan, keadilan, dan cinta.
Film V for Vendetta mendapat tanggapan positif dari sebagian besar kritikus dan penonton, dan menjadi sukses di box office. Film ini juga mempengaruhi penggunaan topeng Guy Fawkes oleh kelompok-kelompok politik dan aktivis anti-pemerintah di dunia nyata, seperti Anonymous, Occupy Movement, dan Arab Spring.
David Lloyd, salah satu pencipta komik aslinya, menyatakan bahwa ia senang dengan penggunaan topeng tersebut sebagai lambang protes terhadap tirani. Namun, Alan Moore, penulis komik aslinya, menolak untuk menonton film ini dan meminta agar namanya tidak dicantumkan atau dibayar royalti. Ia merasa tidak puas dengan adaptasi film dari karya-karyanya yang lain, seperti From Hell (2001) dan The League of Extraordinary Gentlemen (2003).
Film V for Vendetta juga menimbulkan kontroversi dan larangan penayangan di beberapa negara, terutama yang memiliki pemerintahan otoriter atau represif. Beberapa alasan yang diberikan oleh pihak berwenang adalah sebagai berikut:
1 – Di Indonesia, film ini dilarang beredar oleh Lembaga Sensor Film (LSF) pada tahun 2006, dengan alasan bahwa film ini mengandung unsur kekerasan, pornografi, dan penghinaan terhadap agama. LSF juga mengkhawatirkan bahwa film ini dapat memicu gerakan anarkis atau terorisme di Indonesia.
2 – Di Thailand, film ini dilarang beredar oleh Badan Klasifikasi Film dan Video (BKFT) pada tahun 2007, dengan alasan bahwa film ini dapat mengganggu ketertiban dan keamanan nasional. BKFT juga menganggap bahwa film ini dapat menimbulkan perbandingan dengan situasi politik di Thailand saat itu, yang sedang mengalami krisis akibat kudeta militer pada tahun 2006.
3 – Di China, film ini dilarang beredar oleh Administrasi Radio, Film, dan Televisi Negara (SARFT) pada tahun 2007, dengan alasan bahwa film ini dapat merusak stabilitas sosial dan ideologi negara. SARFT juga mengkritik film ini sebagai propaganda Barat yang menyerang pemerintahan komunis di China. (sng)










