Suarapena.com, BANDUNG – Suasana Auditorium Lantai 3 Bandung Creative Hub berubah menjadi panggung semangat dan kreativitas baru-baru ini. Komunitas film independen asal Bandung, Kampung Film Black Team, merayakan ulang tahunnya yang ke-13 dengan penuh gegap gempita. Di tengah sorakan dan tepuk tangan para pecinta film, mereka secara resmi meluncurkan dua film terbaru: “Ahli Waris” dan “Hantu Jadul”.
Bukan sekadar selebrasi, perayaan ini menjadi bukti nyata bahwa semangat berkarya tak mengenal batas. Berdiri sejak 2012 dan berakar di Jalan Cipamokolan Kolot, Cisaranten Endah, Kecamatan Arcamanik, Kampung Film Black Team telah menjelma menjadi rumah bagi sineas muda yang haus akan ekspresi dan perubahan sosial lewat medium film.
Kehadiran anggota DPR RI, Jihan Fahira, menjadi sorotan tersendiri. Dalam sambutannya, ia tak ragu mengungkapkan kekagumannya terhadap komunitas ini.
“Lebih banyak lagi berkreativitas, karena untuk awal ini sudah sangat baik. Dengan minimnya peralatan, mereka bisa menghasilkan sebuah film yang sangat bagus. Bukan hanya soal kreativitas, tapi juga mengandung nilai-nilai kebaikan. Semoga bisa menjadi contoh bagi generasi muda lainnya,” tutur Jihan disambut tepuk tangan meriah, Jumat (13/6/2025).
Tak hanya dua film utama yang jadi sorotan malam itu. Rangkaian acara juga menampilkan karya-karya lainnya dari Black Team seperti “Laskar Wanita Indonesia”, “Penari Kreatif”, dan “Bersenam Senam Dalam Pinjaman” — film-film yang membungkus kearifan lokal dan kisah sehari-hari dalam narasi yang segar dan menggugah.
Dengan gaya penceritaan yang sederhana namun kuat, film-film ini menjadi cerminan semangat komunitas: menyampaikan pesan, menggugah empati, dan mengajak penonton untuk melihat kampung bukan sekadar latar, tapi juga sumber inspirasi.
Karenanya, perayaan ini menjadi tonggak penting yang menegaskan posisi Kampung Film Black Team sebagai komunitas film yang tidak hanya produktif, tapi juga inspiratif. Dengan semangat kolaboratif, mereka membuktikan bahwa karya besar tak harus lahir dari studio megah — tapi bisa tumbuh dari lorong-lorong kampung, dengan hati dan semangat yang menyala. (sp/rer)










