Suarapena.com, BANDUNG – Sejak kecil, Maulana Yusuf As-Shauqi atau Uqi lebih tertarik membuat lingkaran dan menyambungnya menjadi bentuk-bentuk tertentu ketimbang belajar membaca dan menulis dari buku.
Kini, coretan-coretan yang dahulu dibuatnya saat masih kecil telah berkembang menjadi karya yang mendapat ruang apresiasi lebih luas. Salah satu karya Uqi, kreator difabel sekaligus alumni Artherapy Center (ATC) Widyatama, bahkan kini dipajang di Bandara Internasional Husein Sastranegara, Kota Bandung.
Karya tersebut sebelumnya terpilih dalam rangkaian Asia Afrika Festival 2026.
Pencapaian itu menjadi bagian dari perjalanan panjang Uqi dalam mengembangkan bakat sekaligus membuktikan bahwa keterbatasan tidak semestinya menjadi batas bagi seseorang untuk berkarya.
Direktur Artherapy Center Widyatama, Firli Herdiana, mengatakan Uqi merupakan salah satu alumni yang membanggakan.
“Uqi merupakan alumni dari Artherapy Center Widyatama. Dengan karyanya dia mampu memberikan dampak. Salah satu karyanya terpilih di Asia Afrika Festival tahun 2026 dan juga karyanya dipajang di Bandara Husein Sastranegara,” ujar Firli, Jumat (4/9/2026).
Menurut Firli, apa yang dicapai Uqi merupakan gambaran dari proses pendidikan yang tidak hanya berorientasi pada kemampuan akademis, tetapi juga menggali minat dan potensi setiap anak.
Di ATC Widyatama, kata dia, kesenangan anak menjadi pintu masuk untuk mengembangkan kemampuan hingga menghasilkan karya yang memiliki nilai.
“Dari kesenangan sebetulnya, apa yang mereka suka kita kembangkan menjadi suatu bentuk yang bernilai jual. Alhamdulillah karya-karyanya sudah mulai diterima oleh industri,” katanya.
Tak hanya Uqi, sejumlah karya peserta didik dan alumni ATC Widyatama juga mulai mendapatkan tempat di industri, antara lain untuk kebutuhan merchandising hingga pembuatan jingle.
Karya alumni lainnya, Abian dan Lutfi, bahkan pernah dipamerkan di Galeri Nasional Jakarta setelah melalui proses kurasi bersama seniman disabilitas dari luar negeri.
Jauh sebelum karyanya terpajang di bandara, Uqi sudah menunjukkan ketertarikan kuat terhadap dunia visual.
Sang ayah, Nana Sutisna, masih mengingat bagaimana bakat tersebut muncul ketika Uqi masih kecil.
“Memang dari kecil sudah kelihatan. Kalau dikasih buku, dia senangnya bukan ABCD, malah bikin bulat-bulat, disambung-sambung sampai hampir membentuk binatang,” tutur Nana.
Ketertarikan itu tidak hilang seiring bertambahnya usia. Justru, bakat Uqi berkembang ketika ia menjalani pendidikan.
Uqi sempat bersekolah di SLB Cicendo. Ketertarikannya terhadap dunia visual semakin terlihat ketika mengikuti kegiatan ekstrakurikuler. Saat bersekolah di SMK, ia juga mulai mempelajari komputer.
Melihat potensi tersebut, Nana sempat diliputi kebingungan. Ia ingin kemampuan anaknya berkembang, tetapi pada saat yang sama membutuhkan lingkungan pendidikan yang mampu mengakomodasi kebutuhan penyandang disabilitas.
“Saya sempat bingung, ini anak saya harus disalurkan ke mana. Jurusan apa, universitas mana yang bisa menerima anak disabilitas,” katanya.
Hingga akhirnya, Nana mendapat informasi mengenai Widyatama dan mendaftarkan Uqi.
Uqi sempat mengikuti kelas reguler. Namun, dalam perjalanannya, ia kemudian berpindah ke ATC Widyatama karena merasa lebih sesuai dengan lingkungan pembelajaran di sana.
Nana melihat sendiri bagaimana kemampuan menggambar anaknya berkembang hingga mampu menghasilkan karya secara mandiri.
“Dari sini sudah kelihatan bakatnya. Makin bagus saja cara menggambar-gambarnya,” ujarnya.
Bagi keluarga Uqi, kelulusan bukan berarti perjalanan pengembangan bakatnya harus berhenti.
Nana kembali meminta bantuan ATC Widyatama agar kemampuan Uqi tetap mendapatkan ruang untuk berkembang.
Uqi kemudian terus mendapat kesempatan mengembangkan kemampuannya, termasuk di bidang fotografi.
Upaya tersebut sejalan dengan pendekatan ATC Widyatama yang tidak hanya mendorong peserta didik untuk menghasilkan karya, tetapi juga mengarahkan karya mereka agar memiliki nilai ekonomi dan dapat diterima industri.
Firli menilai perjalanan Uqi menunjukkan satu hal penting: setiap anak memiliki potensi, termasuk anak-anak penyandang disabilitas.
Persoalannya bukan apakah mereka mampu berkarya, melainkan apakah mereka mendapatkan kesempatan dan lingkungan yang tepat untuk mengembangkan kemampuan tersebut.
“Setiap anak punya kreativitas dan punya potensi. Tinggal bagaimana kita bisa memberikan wadah dan pendidikan yang tepat,” tutur Firli.
Karena itu, ia berharap kolaborasi antara keluarga, masyarakat, institusi pendidikan, industri, dan pemerintah semakin diperkuat untuk menciptakan ekosistem yang inklusif dan ramah disabilitas di Kota Bandung.
Bagi Nana, keberhasilan Uqi membawa karya hingga ruang publik menjadi kebanggaan sekaligus pengingat bahwa penyandang disabilitas membutuhkan kesempatan, bukan belas kasihan. (sp/ziz)







