Suarapena.com, JAKARTA – Wacana pemilihan kepala daerah (Pilkada) melalui DPRD mendapat penolakan luas dari masyarakat. Hasil survei LSI Denny JA menunjukkan bahwa Generasi Z (Gen Z) menjadi kelompok yang paling keras menolak usulan tersebut.
Peneliti LSI Denny JA, Ardian Sopa, mengatakan sebanyak 84 persen responden Gen Z menyatakan tidak setuju kepala daerah dipilih melalui DPRD. Penolakan juga datang dari generasi lain, yakni Generasi Milenial sebesar 71,4 persen, Generasi X 60 persen, dan Baby Boomer 63 persen.
“Penolakan terhadap Pilkada melalui DPRD terjadi di semua kelompok usia. Mayoritas publik lintas generasi menyatakan tidak setuju,” ujar Ardian saat memaparkan hasil survei di Kantor LSI Denny JA, Jakarta Timur, Rabu (7/1/2026).
Secara keseluruhan, survei mencatat 66,1 persen responden menyatakan tidak setuju atau kurang setuju jika kepala daerah dipilih melalui DPRD. Adapun responden yang menyatakan setuju sebesar 28,6 persen, sementara 5,3 persen lainnya tidak memberikan jawaban.
Menurut Ardian, angka penolakan tersebut menunjukkan sikap publik yang cukup kuat terhadap wacana perubahan mekanisme Pilkada. “Sebanyak 66,1 persen merupakan angka yang besar dan mencerminkan penolakan publik terhadap Pilkada DPRD,” katanya.
Berdasarkan jenis kelamin, penolakan relatif merata. Sebanyak 65,8 persen responden laki-laki dan 66,4 persen responden perempuan menyatakan tidak setuju dengan Pilkada melalui DPRD.
“Baik laki-laki maupun perempuan, tingkat penolakannya berada di atas 60 persen,” ujar Ardian.
Survei juga menunjukkan bahwa penolakan lebih besar datang dari kelompok masyarakat dengan tingkat pendapatan lebih tinggi.
Adapun survei LSI Denny JA dilakukan terhadap 1.200 responden dengan metode multistage random sampling. Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara tatap muka menggunakan kuesioner pada periode 10–19 Oktober 2025. Survei ini memiliki margin of error sekitar 2,9 persen. (sp/pr)










