Suarapena.com, JAKARTA – Peringatan Hari Pers Nasional (HPN) yang jatuh pada 9 Februari menjadi momentum bagi insan pers untuk melakukan refleksi atas peran dan tanggung jawabnya dalam kehidupan demokrasi. Pada kesempatan tersebut, Anggota Komisi I DPR RI Junico Siahaan berharap Presiden Prabowo Subianto dapat menjamin perlindungan dan keamanan jurnalis dalam menjalankan tugas jurnalistiknya.
Junico, yang akrab disapa Nico, menilai jaminan perlindungan terhadap jurnalis harus sejalan dengan komitmen insan pers untuk menghadirkan karya jurnalistik yang berimbang dan bertanggung jawab.
“Kami meminta Presiden memberikan jaminan bahwa keamanan para jurnalis dilindungi oleh pemerintah,” ujar Nico dalam keterangannya, Selasa (10/2/2026).
Menurut Nico, kritik dan evaluasi terhadap pemerintah merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari demokrasi. Karena itu, karya jurnalistik yang bersifat kritis seharusnya disikapi secara bijaksana, tanpa adanya tekanan atau tindakan yang dapat menghambat kebebasan pers.
Ia menegaskan, baik DPR maupun pemerintah tidak seharusnya bersikap anti kritik. “Evaluasi dan kritik itu hal yang wajar. DPR maupun pemerintah tidak boleh anti kritik,” kata Nico.
Lebih lanjut, Nico mendorong pemerintah untuk mengedepankan pendekatan humanis apabila terdapat pemberitaan yang dinilai tidak sesuai. Pendekatan tersebut dinilai lebih tepat dibandingkan langkah-langkah represif yang berpotensi mencederai kebebasan pers.
Selain soal kebebasan pers, Nico juga menyoroti tantangan dunia jurnalistik di era digital, khususnya terkait perkembangan teknologi Artificial Intelligence (AI). Ia menilai rekrutmen dan penguatan kualitas sumber daya manusia di bidang jurnalistik perlu dilakukan secara lebih ketat agar karya jurnalistik tidak disalahgunakan untuk kepentingan tertentu.
“Perlu lebih hati-hati dalam memilih SDM, mengingat perkembangan teknologi yang etikanya belum sepenuhnya diatur, seperti Artificial Intelligence,” ujarnya.
Menutup pernyataannya, legislator Fraksi PDIP itu mengingatkan pentingnya penggunaan kreativitas secara bijaksana oleh insan pers. Menurut dia, kreativitas harus tetap berada dalam koridor norma dan etika jurnalistik.
“Jangan sampai kreativitas melewati batas-batas norma etika jurnalisme,” kata Nico. (r5/um)










