Suarapena.com, BEKASI – Menjelang perayaan Natal 2025 dan Tahun Baru 2026 (Nataru), DPRD Jawa Barat (Jabar) kembali menyoroti potensi kenaikan harga kebutuhan pokok yang kerap terjadi setiap akhir tahun. Selain ancaman inflasi musiman, pengawasan terhadap peredaran barang kedaluwarsa juga menjadi perhatian utama mengingat aktivitas belanja masyarakat diperkirakan melonjak tajam dalam beberapa pekan mendatang.
Anggota DPRD Jabar dari Fraksi PDIP, Ahmad Faisyal Hermawan, menegaskan bahwa fluktuasi harga kebutuhan pokok umumnya dipengaruhi dua faktor utama: pasokan dan permintaan.
“Kenaikan harga itu biasanya selalu dimulai karena pasokan barang yang kurang. Atau sebaliknya dipicu juga oleh konsumsi yang meningkat,” ujarnya, Kamis (20/11/2025).
Menurutnya, kondisi cuaca sering kali menjadi penentu kelancaran suplai, terutama saat memasuki masa peralihan musim.
“Pada saat pergantian musim yang memicu curah hujan berlebih atau sangat minim, tentu berakibat pasokan barang menurun,” jelasnya.
Faisyal menambahkan, pola yang sama nyaris selalu berulang menjelang hari besar keagamaan.
“Demikian juga menjelang hari-hari besar, misalnya Natal dan Tahun Baru. Apalagi bulan Ramadan dan Hari Raya, pasti kebutuhan meningkat,” ungkapnya.
Untuk mencegah gejolak harga dan menjamin ketersediaan pangan tetap stabil, ia menilai peran pemerintah daerah sangat krusial.
“Pemerintah perlu hadir untuk antisipasi. Bisa dalam bentuk intervensi, yaitu mengadakan operasi pasar dan lain-lain,” tegasnya.
Faisyal berharap langkah-langkah mitigasi dapat dilakukan lebih dini agar kenaikan harga dapat ditekan dan peredaran barang tidak layak edar dapat dicegah sejak awal. Ia menilai, tanpa kesiapan yang matang, masyarakat akan kembali menjadi pihak yang paling terdampak. (sp/pr)







