SUARAPENA.COM – Sejak kudeta 1 Februari lalu, sudah lebih dari 500 orang pengunjuk rasa tewas di Myanmar. Assistance Association for Political Prisoners (AAPP) menyebut warga sipil yang tewas telah mencapai 510 orang.
Dari 14 warga sipil yang tewas di Myanmar pada hari Senin kemarin, AAPP mengatakan setidaknya delapan orang berada di distrik Dagon Selatan di Yangon.
Pasukan keamanan di daerah itu menembakkan senjata kaliber yang jauh lebih berat dari biasanya pada Senin untuk membersihkan barikade kantong pasir, kata saksi mata. Tidak jelas jenis senjata apa yang digunakan.
Televisi pemerintah mengatakan pasukan keamanan menggunakan “senjata anti huru hara” untuk membubarkan kerumunan “orang-orang teroris yang kejam” yang menghancurkan trotoar dan satu orang terluka.
Seorang warga South Dagon pada hari Selasa mengatakan lebih banyak tembakan terdengar di daerah itu semalam meningkatkan kekhawatiran lebih banyak korban.
Polisi dan juru bicara junta tidak menjawab panggilan untuk meminta komentar.
Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres mendesak para jenderal Myanmar untuk menghentikan pembunuhan dan penindasan demonstrasi.
Dalam taktik baru, pengunjuk rasa berusaha untuk meningkatkan kampanye pembangkangan sipil pada hari Selasa dengan meminta penduduk membuang sampah ke jalan-jalan di persimpangan jalan utama.
“Aksi mogok sampah ini adalah aksi menentang junta,” tulis sebuah poster di media sosial.
Langkah itu bertentangan dengan panggilan yang dikeluarkan melalui pengeras suara di beberapa lingkungan Yangon pada hari Senin yang mendesak penduduk untuk membuang sampah dengan benar. (Re)










