Suarapena.com, JAKARTA – Kabar duka datang dari dunia pendidikan dan perjuangan demokrasi di Indonesia. Rheza Sendy Pratama, mahasiswa Program Studi Ilmu Komunikasi Universitas Amikom Yogyakarta, meninggal dunia usai terlibat dalam unjuk rasa di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). Kematian Rheza yang penuh luka mengundang duka mendalam dan kecaman keras dari Anggota Komisi X DPR RI, Bonnie Triyana.
Dalam pernyataan, Bonnie menyampaikan belasungkawa yang mendalam kepada keluarga Rheza. “Sebagai seorang ayah dan sesama manusia, saya turut merasakan kehilangan yang luar biasa. Tidak ada alasan apapun yang bisa membenarkan kekerasan yang menimpa Rheza hingga berujung maut,” tegas Bonnie, Selasa (2/9/2025).
Rheza, mahasiswa angkatan 2023, dilaporkan meninggal pada Minggu pagi (31/8/2025) setelah mengikuti demonstrasi di depan Mapolda DIY. Kejadian memilukan ini bermula saat motor yang dikendarainya tiba-tiba mati di tengah kericuhan. Saat aparat menembakkan gas air mata, Rheza jatuh dan tak berdaya, sementara rekannya berhasil melarikan diri. Rheza kemudian dilarikan ke RSUP Dr Sardjito oleh petugas kesehatan Polda DIY, namun nyawanya tak tertolong.
Ayah Rheza, Yoyon Surono, menceritakan malam sebelum tragedi, putranya pamit keluar rumah untuk nongkrong bersama teman-teman. Namun pagi harinya, kabar buruk datang menghampiri.
“Saya terkejut mendapat kabar anak saya dirawat karena gas air mata. Tapi saat sampai rumah sakit, dia sudah tiada,” kenang Yoyon.
Bonnie menegaskan bahwa hak mahasiswa untuk menyuarakan pendapat dijamin konstitusi dan harus dilindungi oleh aparat. Kekerasan terhadap demonstran yang tidak berdaya adalah pelanggaran serius, bahkan melanggar prinsip hukum internasional yang melindungi pihak tak berdaya.
“Situasi unjuk rasa bukan medan perang, aparat harus mengendalikan diri dan memprioritaskan perlindungan terhadap mahasiswa,” ujarnya.
Politisi Fraksi PDIP ini mendesak penyelidikan tuntas atas kematian Rheza dan meminta pelaku kekerasan bertanggung jawab sesuai hukum yang berlaku. Ia juga mengingatkan pentingnya aparat mematuhi SOP pengendalian massa (Dalmas) demi mencegah tragedi serupa terulang.
“Keselamatan rakyat adalah hukum tertinggi. Mari kita jaga persatuan bangsa dengan menahan diri dan menegakkan hukum secara adil. Suara mahasiswa harus didengar tanpa harus berujung korban jiwa,” pungkasnya. (r5/rdn)










