Suarapena.com, JAKARTA – Wakil Ketua Komisi X DPR RI, MY Esti Wijayati, menegaskan bahwa penanganan mahasiswa terdampak bencana tidak boleh hanya difokuskan pada mereka yang berada di lokasi bencana. Mahasiswa perantau yang berasal dari daerah terdampak, meskipun sedang menempuh pendidikan di luar wilayah tersebut, juga membutuhkan perhatian serius dari perguruan tinggi dan pemerintah.
Menurut Esti, mahasiswa dari daerah bencana kerap menghadapi tekanan psikologis dan kesulitan ekonomi akibat kondisi keluarga di kampung halaman. Situasi ini berpotensi mengganggu keberlanjutan studi mereka jika tidak ditangani secara tepat.
“Penanganan mahasiswa terdampak bencana itu tidak hanya untuk mereka yang berada di lokasi. Mahasiswa yang berada di luar lokasi bencana tetapi berasal dari daerah bencana juga harus diperhatikan. Dua-duanya harus menjadi perhatian,” kata Esti dalam keterangannya, Senin (15/12/2025).
Esti mengingatkan risiko terburuk yang bisa dialami mahasiswa korban bencana adalah putus kuliah atau drop out (DO). Ia meminta kampus memberikan dispensasi akademik, termasuk kelonggaran ujian dan penyelesaian tugas akhir, agar mahasiswa tidak kehilangan hak untuk melanjutkan pendidikan.
“Mereka harus dijaga betul supaya tidak sampai DO. Hal itu bisa terjadi karena skripsi tertunda, tidak bisa mengikuti ujian akhir semester, dan kendala lainnya. Karena itu, perlu ada perlakuan khusus,” ujarnya.
Perlakuan tersebut, lanjut Esti, harus diberikan baik kepada mahasiswa yang berada di wilayah bencana maupun mereka yang sedang berkuliah di luar daerah tetapi terdampak secara langsung.
Dalam dialog tersebut, Rektor Universitas Udayana melaporkan terdapat sekitar 120 mahasiswa yang berasal dari wilayah terdampak bencana. Saat ini, pihak kampus masih melakukan pendataan untuk mengetahui mahasiswa mana saja yang membutuhkan pendampingan dan bantuan.
Esti menilai pendataan tersebut penting sebagai dasar pemberian bantuan, baik dalam bentuk dukungan psikologis, bantuan ekonomi, maupun dispensasi akademik.
Lebih lanjut, Komisi X DPR RI melalui Ditjen Dikti Ristek mendorong seluruh perguruan tinggi di Indonesia mengedepankan semangat gotong royong dalam membantu mahasiswa terdampak bencana.
“Kami berharap kampus dan masyarakat bisa bergotong royong agar mahasiswa tetap bisa memenuhi kebutuhan dasar dan melanjutkan kuliahnya dengan baik,” kata Esti.
Ia mencontohkan sejumlah perguruan tinggi yang telah memberikan pembebasan uang kuliah tunggal (UKT) bagi mahasiswa korban bencana sebagai wujud kehadiran negara dan komitmen nilai-nilai Pancasila.
“Jika mahasiswa tidak mampu membayar uang kuliah, negara harus hadir. Beberapa kampus sudah melakukannya, seperti Unesa dan UPI. Ini bentuk nyata semangat gotong royong,” ujarnya.
Menutup pernyataannya, Esti menekankan pentingnya dukungan moral bagi mahasiswa terdampak bencana. Menurut dia, perhatian dan empati menjadi modal penting agar mahasiswa tetap optimistis menatap masa depan.
“Jangan biarkan mereka merasa sendirian. Kita harus memastikan mereka tetap memiliki semangat untuk menyelesaikan kuliah dan meraih masa depan yang lebih baik,” kata Esti. (r5/rdn)










