Suarapena.com, BANDUNG – Wali Kota Bandung Muhammad Farhan meminta maaf kepada masyarakat atas kemacetan yang terjadi di sejumlah ruas jalan akibat pengerjaan proyek Bus Rapid Transit (BRT).
Farhan mengakui, pembangunan BRT saat ini menimbulkan dampak terhadap mobilitas warga. Namun, ia memastikan Pemerintah Kota Bandung akan terus mengawal proyek tersebut agar pengerjaannya berjalan baik dan manfaat transportasi massal itu dapat dirasakan masyarakat.
“Saya dapat laporan tertulis. Keluhan-keluhan macet ini memang sudah kita deteksi sejak 14 Agustus yang lalu. Ada berbagai alasan dari kontraktor, tetapi buat saya itu bukan alasan,” ujar Farhan, Sabtu (22/8/2026).
Menurut dia, persoalan kemacetan di sejumlah titik telah menjadi perhatian Pemkot Bandung dan sedang ditangani bersama pihak terkait.
“Yang paling penting adalah bagaimana BRT ini benar-benar bisa memberikan manfaat bagi warga Bandung,” katanya.
Farhan tidak menampik pembangunan BRT saat ini masih mendapat respons negatif dari sebagian masyarakat.
Ia mengatakan, kondisi tersebut menjadi tantangan bagi Pemkot Bandung untuk memastikan proyek transportasi massal tersebut benar-benar memberikan dampak positif dalam jangka panjang.
“Sekarang terus terang, mohon maaf pisan, BRT ini masih terpersepsikan sangat negatif di mata warga Bandung,” ujar Farhan.
Karena itu, Farhan menyatakan dirinya akan terlibat dalam pengawalan proses pembangunan BRT, mulai dari tahap perencanaan, pembangunan hingga pemanfaatannya.
“Untuk itu saya berkomitmen sebagai wali kota akan bekerja keras bersama-sama memastikan proses perencanaan, pembangunan, dan pemanfaatan BRT ini memberikan manfaat yang sangat baik bagi seluruh warga Kota Bandung,” tuturnya.
Sementara itu, Dinas Perhubungan Kota Bandung tengah melakukan pembenahan di sejumlah titik yang masuk dalam koridor BRT.
Pekerjaan tersebut antara lain menyasar jalur trotoar dan median jalan. Aktivitas konstruksi di sejumlah ruas tersebut menjadi salah satu faktor yang berdampak terhadap kelancaran lalu lintas.
Farhan memastikan pengerjaan dilakukan dengan memperhatikan kecepatan, kerapian, serta keselamatan pengguna jalan.
“Saya mohon maaf sekali karena menimbulkan kemacetan, tetapi saya akan pastikan pengerjaannya cepat, rapi, dan tidak menimbulkan kecelakaan,” katanya.
Farhan mengatakan pembangunan sistem BRT secara keseluruhan ditargetkan selesai pada 2027.
Setelah konstruksi rampung, layanan BRT diharapkan dapat beroperasi secara penuh tanpa adanya pekerjaan tambahan yang kembali mengganggu lalu lintas.
Koridor utama BRT akan melintasi sejumlah kawasan strategis di Kota Bandung, mulai dari Alun-alun Bandung, Jalan Sudirman, Rajawali, kawasan Stasiun Bandung, Otista, Tegalega, hingga kembali ke pusat kota.
Adapun koridor lainnya akan menghubungkan Alun-alun, Banceuy, Jalan Ahmad Yani, Kiaracondong, Jalan Jakarta, Simpang Lima, Asia Afrika, dan kembali ke Alun-alun Bandung.
Pada sejumlah ruas tersebut nantinya akan diterapkan jalur khusus atau dedicated lane yang dilengkapi separator. Jalur itu ditujukan untuk memberikan prioritas kepada armada BRT.
Farhan juga mengajak masyarakat dan media massa ikut mengawasi pembangunan BRT. Ia meminta warga segera melaporkan apabila menemukan kemacetan maupun persoalan lain selama proses pembangunan.
“Kalau ada kemacetan atau hal-hal yang tidak memuaskan, laporkan segera. Boleh ke 112, boleh melalui media sosial,” ujar Farhan.
Ia juga mempersilakan wartawan melakukan pengawasan terhadap proyek tersebut.
“Kami membutuhkan bantuan masyarakat untuk memastikan pembangunan BRT ini memberikan manfaat untuk semua orang,” katanya.
Farhan menambahkan, BRT merupakan bagian dari rencana jangka panjang Pemkot Bandung dalam membangun transportasi massal.
Setelah BRT berjalan optimal, Pemkot Bandung memiliki rencana untuk mengembangkan transportasi berbasis rel ringan atau Light Rail Transit (LRT).
“Karena ada mimpi berikutnya, yaitu LRT. Tapi itu nanti. Yang sekarang kita fokus memastikan BRT berjalan baik dan dirasakan manfaatnya oleh masyarakat,” ujar Farhan. (sp/rob)







