Suarapena.com, SEMARANG – Pemerintah mulai memetakan sejumlah ruas jalan nasional di Jawa Tengah yang berpotensi mengalami kemacetan dan bencana menjelang arus mudik Lebaran 2026. Pemetaan ini dilakukan untuk mengantisipasi lonjakan kendaraan sekaligus potensi gangguan akibat cuaca ekstrem.
Berdasarkan data Balai Besar Pelaksanaan Jalan Nasional Jawa Tengah–DI Yogyakarta (BBPJN Jateng–DIY), terdapat 46 titik rawan kemacetan dan 23 titik rawan bencana di jalur nasional wilayah Jawa Tengah.
Kepala BBPJN Jateng–DIY, Moch Iqbal Tamher, mengatakan titik rawan kemacetan tersebar di jalur pantai utara (Pantura), jalur tengah, hingga jalur selatan. Lokasinya umumnya berada di kawasan pasar, perlintasan sebidang kereta api, persimpangan padat, serta akses keluar-masuk jalan tol.
“Seluruh titik sudah kami petakan. Personel dan peralatan kami siapkan agar potensi hambatan arus mudik bisa diminimalkan,” ujar Iqbal dalam keterangannya, Senin (2/3/2026).
Menurut dia, jalur Pantura menjadi koridor paling krusial karena menampung arus kendaraan jarak jauh dari arah barat ke timur, termasuk kendaraan logistik dan bus antarkota.
Selain potensi kemacetan, BBPJN juga mengidentifikasi 23 titik rawan bencana yang terdiri atas 14 titik rawan banjir dan sembilan titik rawan longsor.
Sejumlah ruas yang masuk kategori rawan banjir antara lain Jalan Kaligawe Semarang, ruas Sayung di perbatasan Semarang–Demak, Jalan Walisongo, serta ruas Kendal di jalur Pantura. Potensi genangan juga terdeteksi di ruas Pemuda Brebes, Prupuk–Batas Kabupaten Tegal/Banyumas, Sidareja–Simpang 3 Jeruklegi, Sampang–Buntu, Klampok–Banjarnegara, Lingkar Selatan Klaten, hingga Palur–Sragen.
Iqbal menjelaskan, ruas-ruas tersebut umumnya berada di dataran rendah atau memiliki riwayat genangan akibat hujan dengan intensitas tinggi maupun rob.
Adapun titik rawan longsor banyak ditemukan di jalur selatan dan wilayah perbukitan, di antaranya ruas Batas Jawa Barat–Karangpucung–Wangon, Ajibarang–Wangon, Wangon–Batas Banyumas/Cilacap, Patikraja–Rawalo, serta Batas Kota Banjarnegara–Wonosobo.
“Karakteristik tanah yang labil dan kontur perbukitan menjadi faktor utama potensi longsor, terutama saat curah hujan tinggi,” kata Iqbal.
Untuk mendukung kelancaran arus mudik, BBPJN menyiapkan 18 posko Lebaran yang tersebar di berbagai koridor strategis di Jawa Tengah, mulai dari Pantura barat hingga jalur selatan.
Di Pantura barat, posko ditempatkan di ruas Batas Kabupaten Tegal/Kabupaten Brebes–Prupuk dan Batas Kabupaten Tegal–Kabupaten Pemalang. Sementara di Pantura tengah dan timur, posko disiagakan di kawasan Alas Roban, Jalan Walisongo, ruas Batas Kota Semarang–Batas Kota Demak (KM 13+700), ruas Batas Kabupaten Kudus/Pati–Simpang 3 Lingkar Pati (KM 66+300), serta Pemuda Rembang (KM SMG 113+100).
Di jalur tengah dan selatan, posko berada di ruas Bawen–Batas Kota Salatiga, Kartosuro–Batas Kota Klaten, Purwokerto–Patikraja, Klampok–Banjarnegara, hingga Wawar–Congot.
Selain posko, BBPJN juga menyiagakan empat Unit Pelaksanaan Peralatan (UPP) Disaster Relief Unit (DRU) di Pekalongan, Karangjati, Buntu, dan Yogyakarta. Peralatan yang disiapkan antara lain excavator, wheel loader, motor grader, dump truck, hingga asphalt finisher.
Material tanggap darurat seperti rangka jembatan darurat bentang 30 meter, kawat bronjong, sand bag, sheet pile, serta material tambalan cepat juga telah dipersiapkan untuk mengantisipasi kerusakan infrastruktur.
Sebelumnya, Gubernur Jawa Tengah, Ahmad Luthfi, menyatakan kesiapan daerahnya dalam menyambut pemudik Lebaran 2026. Ia menegaskan Jawa Tengah merupakan wilayah utama perlintasan nasional sehingga persiapan infrastruktur harus dilakukan secara maksimal.
“Jawa Tengah menjadi wilayah utama perlintasan nasional, sehingga persiapan infrastrukturnya tidak boleh setengah-setengah,” ujar Luthfi. (sp/pr)










