Suarapena.com, YOGYAKARTA – Taman Budaya Embung Giwangan (TBEG) di selatan Kota Yogyakarta berkembang menjadi ruang publik terpadu yang memadukan aktivitas seni, budaya, dan interaksi sosial masyarakat. Kawasan ini tidak hanya difungsikan sebagai tempat pertunjukan, tetapi juga sebagai ruang bersama yang terbuka, inklusif, dan ramah lingkungan.
Berlokasi di Jalan Tegalturi, Kalurahan Giwangan, Kemantren Umbulharjo, TBEG dikelola oleh UPT Pengelolaan Taman Budaya di bawah Dinas Kebudayaan (Kundha Kabudayan) Kota Yogyakarta. Kehadirannya menjadi bagian dari upaya Pemerintah DIY dalam menyediakan ruang publik berkualitas sekaligus mendukung pelestarian dan pengembangan seni budaya.
TBEG dibangun di atas lahan seluas sekitar 3,4 hektare. Sekitar sepertiga dari luas kawasan tersebut berupa embung yang berfungsi sebagai penampung air hujan. Selain mendukung konservasi air, embung menjadi elemen lanskap utama yang menciptakan ruang terbuka hijau dengan suasana sejuk dan nyaman.
Sejak mulai beroperasi pada 2024 dan diresmikan oleh Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwono X pada 23 Mei 2025, TBEG aktif dimanfaatkan masyarakat. Setiap hari, kawasan ini digunakan untuk berbagai kegiatan, mulai dari latihan komunitas seni, aktivitas bermain anak, hingga olahraga warga di lintasan joging yang mengelilingi embung.
Dari sisi fasilitas, TBEG dilengkapi Gedung Entrance bergaya Indische yang difungsikan sebagai ruang rapat serta mini galeri produk seni budaya. Di sisi barat kawasan terdapat panggung terbuka berbentuk tapal kuda dengan kapasitas lebih dari 500 penonton, yang memungkinkan pertunjukan seni disaksikan dari berbagai sudut.
Kepala Seksi Kerja Sama dan Pemasaran UPT Pengelolaan Taman Budaya, Nia Dianti, mengatakan TBEG dirancang sebagai ruang publik yang dapat diakses seluruh lapisan masyarakat.
“Taman Budaya Embung Giwangan disiapkan untuk mendukung pengembangan dan pelestarian kebudayaan. Seniman, pelajar, komunitas, hingga masyarakat umum dapat memanfaatkan berbagai venue yang tersedia untuk berekspresi dan berkegiatan,” ujar Nia, Minggu (8/2/2026).
Menurut dia, keberadaan TBEG juga memberikan dampak ekonomi bagi warga sekitar. Setiap Minggu pagi, kawasan ini rutin menggelar Pasar Minggu yang membuka peluang bagi pelaku UMKM di Giwangan dan sekitarnya.
“Ramainya pengunjung ikut menggerakkan ekonomi lokal. Selain itu, TBEG juga menjadi pusat kegiatan seni budaya terjadwal. Melalui kerja sama dengan Jogja Tourism Training Center (JTTC), digelar Jogja Culture Show setiap Sabtu, dengan penambahan jadwal pada masa libur panjang,” kata Nia.
Dalam pengelolaannya, TBEG menyediakan fasilitas gratis maupun berbayar. Pemanfaatan auditorium, ruang pamer, dan kios kuliner dapat diajukan melalui pengelola dengan prosedur yang sederhana dan transparan, baik secara langsung maupun melalui layanan hotline serta kanal media sosial resmi.
Taman Budaya Embung Giwangan dibangun dengan dukungan Dana Keistimewaan dan diharapkan terus berkembang sebagai pusat aktivitas seni budaya sekaligus ruang publik unggulan di kawasan selatan Kota Yogyakarta. Informasi agenda kegiatan seni budaya TBEG dapat diakses melalui Instagram @tamanbudaya.embunggiwangan. Pengelola juga menyediakan layanan hotline di nomor 0823-3873-4331. (sp/fn)










