Suarapena.com, YOGYAKARTA – Sore baru saja lewat dari waktu Asar ketika Tuwuh Hartoyo tiba di sebuah kandang di Balecatur, Gamping, Sleman.
Di hadapannya berdiri Prames, seekor kuda betina yang beberapa hari terakhir berjalan pincang.
Kendri Yanto, kusir andong yang biasa beroperasi di kawasan Malioboro, sudah menunggu. Ia tahu ada yang tidak beres ketika langkah Prames mulai berubah.
Namun Tuwuh tidak langsung menyentuh tubuh kuda itu.
Ia meminta Kendri mengajak Prames berjalan.
Pelan-pelan Tuwuh mengamati. Matanya mengikuti gerakan kaki Prames. Sesekali ia memperhatikan perubahan tumpuan tubuh kuda tersebut.
Ia seperti sedang membaca sesuatu yang tak tertulis.
Setelah merasa cukup, Tuwuh berganti pakaian. Ia masuk ke kandang dan mulai bekerja.
Tangannya mengusap kaki Prames yang pincang. Perlahan, pijatan berpindah ke bagian tubuh lainnya. Dari kaki yang bermasalah, kaki lainnya, hingga tubuh kuda.
Prames sempat gelisah.
Namun, perlahan hewan itu tenang.
Hampir dua jam Tuwuh berada di dalam kandang.
Tak ada alat canggih. Tak ada ruang perawatan khusus. Hanya pengalaman puluhan tahun dan sepasang tangan yang sudah terbiasa mengenali tubuh hewan.
Setelah selesai, Tuwuh kembali meminta Kendri membawa Prames berjalan.
Kuda itu melangkah.
Pincangnya mulai berkurang.
Tuwuh memperhatikan dari kejauhan. Senyum tipis muncul di wajahnya.
Bagi Tuwuh, merawat kuda bukan sekadar pekerjaan.
Keahlian itu tumbuh dari kehidupan yang sederhana, dari sawah, dari hewan-hewan yang sejak lama menjadi bagian dari keseharian masyarakat pedesaan.
Sejak 2005, ia menekuni pijat hewan di sela pekerjaannya sebagai petani.
Awalnya bukan kuda yang menjadi objek keahliannya.
Tuwuh belajar dari sang kakak dan terbiasa menangani kerbau serta sapi yang digunakan warga untuk membantu pekerjaan di sawah.
Dari sana, keterampilannya berkembang.
Suatu hari, seorang kusir meminta bantuannya memijat kuda.
Tuwuh sempat ragu.
Kuda bukan kerbau atau sapi. Gerakannya lebih sulit ditebak. Ketika merasa terganggu, hewan itu bisa menggigit atau menyepak.
Risiko itu benar-benar ia rasakan.
Beberapa kali Tuwuh pernah terkena tendangan kuda ketika menjalankan pekerjaannya.
Tetapi ia tidak mundur.
“Memang naluri kuda itu menggigit dan menyepak jika merasa terganggu,” ujarnya, Jumat (4/9/2026).
Pengalaman kemudian menjadi gurunya.
Ia belajar mengenali kuda bukan dari buku, melainkan dari puluhan tahun berhadapan langsung dengan hewan tersebut.
Ia memperhatikan cara berjalan, kecepatan langkah, hingga perubahan gerak yang tampak kecil.
“Kuda yang perlu dipijat biasanya jalannya berbeda, pincang. Kecepatan jalannya juga berkurang,” katanya.
Ada satu hal yang membuat perjalanan Tuwuh semakin istimewa.
Ia merupakan penyandang tunarungu.
Dalam berkomunikasi, Tuwuh mengandalkan gerak bibir lawan bicara dan membaca situasi di sekitarnya.
Tetapi ketika berhadapan dengan kuda, ia memiliki bahasa lain.
Gerakan kaki.
Cara berdiri.
Perubahan langkah.
Kegelisahan.
Semua itu menjadi petunjuk baginya.
Lebih dari dua dekade menjalani pekerjaan tersebut membuat Tuwuh dikenal di kalangan kusir andong Yogyakarta.
Namanya berpindah dari satu percakapan ke percakapan lainnya. Tidak melalui iklan. Tidak melalui media sosial.
Dari satu kusir ke kusir lainnya.
Dari satu kandang ke kandang berikutnya.
Bahkan, panggilan untuk menangani kuda pernah membawanya hingga Jakarta.
Putranya, Ahmat Nur, menjadi salah satu penghubung bagi orang-orang yang membutuhkan jasa sang ayah.
Tuwuh tidak menggunakan telepon seluler. Karena itu, pelanggan biasanya menghubungi Ahmat atau saudara-saudaranya.
“Biasanya yang pesan menghubungi saya atau saudara-saudara saya. Setelah itu bapak dijemput dan diantar pulang,” tutur Ahmat.
Setelah pekerjaan selesai, Tuwuh kembali diantar pulang.
Begitulah rutinitasnya.
Tangan Tuwuh tidak hanya bekerja melalui pijatan.
Ia juga menggunakan parem, ramuan tradisional yang dibuat dari cabai rawit merah dan jahe.
Kedua bahan itu dihaluskan, kemudian dicampur air sebelum dioleskan ke tubuh kuda.
“Cabai sama jahe itu diulek dan dioleskan ke seluruh tubuh kuda,” jelasnya.
Pada Prames, ramuan tersebut digunakan setelah pemijatan selesai.
Sensasi panas membuat Prames sempat gelisah. Namun, setelah beberapa saat, kuda itu kembali tenang.
Tuwuh kemudian membiarkan kuda tersebut beristirahat.
Ia memahami bahwa pijatan bukan obat untuk segala persoalan.
Jika cedera yang dialami berat, seperti patah tulang, dibutuhkan penanganan berbeda.
Pengetahuan semacam itu ia dapatkan bukan dari pendidikan formal, melainkan dari perjalanan panjangnya menangani hewan.
Kendri bukan pertama kali mempercayakan kudanya kepada Tuwuh.
Prames sudah beberapa kali mendapatkan perawatan dari tangan pria tersebut.
“Ini sudah kesekian kalinya saya memakai jasa Pak Tuwuh. Kuda saya, Prames, beberapa hari ini jalannya sedikit pincang,” ujar Kendri.
Menurut Kendri, kuda tidak selalu harus dipijat.
Perawatan diberikan ketika ada perubahan yang terlihat.
“Kuda itu jarang sakit. Kalau kakinya pincang, baru dipijat. Kalau tidak, ya tidak dipijat,” katanya.
Bagi Kendri, pengalaman adalah alasan utama ia percaya.
“Keahlian pijatnya sudah mumpuni dan tidak perlu diragukan lagi. Setiap kali kuda saya membutuhkan pijat, saya percayakan kepada Pak Tuwuh,” ungkapnya.
Untuk mendatangi kandang pelanggan, Tuwuh biasanya dijemput oleh kusir.
Biaya transportasi ditanggung pemesan.
Sementara tarif pijat tidak pernah dipatok secara khusus.
Besarnya upah disepakati dengan pelanggan. Sekali menangani kuda, ia biasanya menerima lebih dari Rp100 ribu hingga sekitar Rp300 ribu.
Namun uang bukan alasan utama Tuwuh mempertahankan pekerjaan itu.
Pekerjaan utamanya tetap bertani.
“Ini sampingan saja. Pekerjaan utama saya di sawah,” ujarnya.
Tahun-tahun yang dilalui Tuwuh akhirnya mendapat pengakuan.
Atas dedikasinya, ia menerima Anugerah Kebudayaan DIY 2025 dari Pemerintah Daerah DIY dalam kategori kesehatan tradisional.
Penghargaan itu diberikan sebagai apresiasi atas dedikasinya mempertahankan pengetahuan dan praktik tradisional yang telah dijalaninya selama bertahun-tahun.
Namun jauh sebelum penghargaan itu datang, Tuwuh sebenarnya sudah memiliki bentuk pengakuan lain.
Kepercayaan.
Para kusir andong mengenal namanya. Mereka tahu harus mencari siapa ketika langkah kuda mulai berubah.
Tidak ada papan nama di depan rumahnya.
Tidak ada promosi besar-besaran.
Nama Tuwuh tumbuh dari cerita yang berpindah dari mulut ke mulut.
Dan setiap kali telepon—melalui anak atau kerabatnya—membawa kabar tentang seekor kuda yang membutuhkan bantuan, ia bersiap berangkat.
Menjelang petang, Prames kembali berjalan.
Kali ini langkahnya lebih baik.
Kendri mengamatinya. Tuwuh pun demikian.
Hampir dua jam sebelumnya, kuda itu datang dengan langkah pincang. Kini ia mulai menapak lebih mantap.
Tuwuh tersenyum.
Tidak ada perayaan. Tidak ada tepuk tangan.
Hanya seekor kuda yang kembali berjalan dan seorang lelaki yang merasa pekerjaannya selesai dengan baik.
Bagi Tuwuh, mungkin sesederhana itu kepuasannya.
Ia bekerja dari sawah ke kandang-kandang kuda, membawa keterampilan yang dipelajarinya secara turun-temurun dan diasah selama lebih dari dua puluh tahun.
Tangannya mungkin tidak dikenal banyak orang.
Namanya mungkin tidak terpampang di jalan-jalan Yogyakarta.
Namun di antara suara roda andong, langkah kaki kuda, dan hiruk-pikuk Malioboro, keterampilan Tuwuh ikut menjaga agar langkah itu tetap berjalan.
Sebab bagi para kusir, kuda bukan sekadar hewan pekerja.
Ada penghidupan yang bergantung padanya.
Dan bagi Yogyakarta, ada tradisi yang terus dijaga agar tidak berhenti melangkah. (sp/fn)







