Tegarlah, selesaikanlah urusanmu dengan dirimu sendiri. Lalu pastikanlah kau jadi kapal yang kuat, yang akan jadi contoh menembus derai badai samudera. Sekuat apapun sebuah kapal ia tak ada artinya jika berlabuh di atas tanah. Ia bernilai, karena ia tegar di tengah badai samudera.
Itulah hakikat hijrah, bukan untuk berpisah dengan samudera masyarakat. Bukan untuk berteman dengan pilih-pilih. Eh ini komunitas hijrah, jangan ke situ, itu komunitas jahiliyah. bla bla bla….
Hijrah bukan untuk itu. Hijrah adalah menyelesaikan urusan komitmenmu dengan Allah. Lalu menyelesaikan urusanmu dengan kemauan dalam dirimu sendiri.
Setelah itu, lepaskan tali di dermaga, agar kapalmu keluar dari kamarmu, kembali ke komunal terdekat yaitu keluargamu. Lalu sahabat sahabat lamamu, lalu wariskanlah rasa rindu di hati orang terhadap adab dan perilakumu. Dusta besar jika hijrah membuatmu kehilangan sahabat-sahabat lamamu.










