Badai pertama hijrahmu bukan teman-teman lamamu, bukan orang yang mengolok-olok perubahanmu, tapi dirimu sendiri. Kemauan, kesungguhan lalu terbalut indahnya ketulusan dan kerendahan hatimu.
Sudahkah hijrah ini berbuah kesejatian? bukan topeng pengakuan. Islami dalam tampilan tampilan di depan manusia, militan di hadapan makhluk, tapi picik dalam sanubari, rapuh dalam kesendirian. Karena itu, tegarlah di tengah badai sob. Selesaikan urusanmu dengan dirimu sendiri. Agar istiqomahmu berjalan dalam batin yang tenang.
Karena, saat kau sampai di titik itu, sampailah kapalmu siap diuji coba ke tengah lautan. Diuji ketangguhannya menghadapi dinamika samudera masyarakat. Dimana dirimu, hijrahmu dituntut mengambil peran, menjadi solusi, menjadi teladan, menaklukan badai persepsi kehidupan. Menjadi arif dengan mendengar, membawa solusi saat bicara, menjadi teladan saat beramal.
Dimana nilai kita, jika kapal kita hanya dibuat untuk diikat di dermaga? tak ada nilai kita jika hijrah kita hanya untuk disimpan di kamar. Tak berani hadapi heterogenitas masyarakat, sesumbar dan jadi jagoan kandang di komunal-komunal retorik berpropaganda suci. Padahal, rasa kita lebih suci itu karena kita sama sama sadar Allah masih menutup aib kita.










