Suarapena.com, BEKASI – Wakil Wali Kota Bekasi Abdul Harris Bobihoe mengunjungi Heru Baskoro (84), putra kandung Sayuti Melik, tokoh yang mengetik naskah Proklamasi Kemerdekaan Indonesia, di Sentra Terpadu Pangudi Luhur (STPL), Kota Bekasi, Kamis (6/8/2026).
Dalam kunjungan itu, Harris didampingi jajaran dinas terkait serta anggota DPRD Kota Bekasi Misbahudin dari Fraksi Gerindra dan Ahmadi Madonk dari Fraksi PKB.
Selain memastikan kondisi kesehatan Heru Baskoro, Harris juga menyampaikan pesan dari Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto. Presiden mengundang Heru bersama istrinya, Treyzia Noviani (65), sebagai tamu kehormatan dalam peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia di Istana Negara, Jakarta.
“Kami bersilaturahmi, memastikan kondisi beliau saat ini, sekaligus menyampaikan pesan dari Bapak Presiden RI Prabowo Subianto bahwa pada peringatan HUT Kemerdekaan RI nanti, beliau beserta istri diundang sebagai tamu kehormatan di Istana Negara,” kata Harris.
Heru Baskoro saat ini menjalani perawatan dan pendampingan di STPL Kota Bekasi setelah sebelumnya dievakuasi dari rumah kontrakannya di kawasan Rawalumbu, Kota Bekasi, pada Senin (13/7/2026).
Di lokasi tersebut, Heru memperoleh layanan bantuan residensial, rehabilitasi medis, serta rehabilitasi psikososial dari pemerintah.
Harris mengatakan, perhatian kepada keluarga Sayuti Melik merupakan bentuk penghormatan terhadap jasa para tokoh yang berkontribusi dalam sejarah perjuangan bangsa.
“Momentum ini menjadi pengingat bagi kita semua atas jasa dan torehan sejarah perjuangan kemerdekaan Indonesia,” ujar Harris.
Dalam kesempatan yang sama, Harris juga berbincang dengan Treyzia Noviani di teras STPL dan menyerahkan buah tangan sebagai bentuk perhatian dari Pemerintah Kota Bekasi.
Treyzia menyampaikan apresiasi atas kunjungan tersebut. Ia mengaku bersyukur sekaligus bahagia karena mendapat undangan langsung dari Presiden Prabowo untuk menghadiri upacara peringatan kemerdekaan di Istana Negara.
Bagi keluarga Sayuti Melik, undangan itu menjadi bentuk penghormatan negara kepada sosok yang memiliki peran penting dalam sejarah Indonesia sebagai pengetik naskah Proklamasi Kemerdekaan yang dibacakan pada 17 Agustus 1945. (sp/ez)







