Suarapena.com, BREBES – Bertahun-tahun, Rasti menjalani hari-harinya di sebuah rumah yang jauh dari kata layak. Dinding dan bagian rumah yang serba terbatas menjadi bagian dari kesehariannya bersama keluarga.
Yang membuat hidupnya semakin berat, rumah itu berdiri bukan di atas tanah miliknya sendiri.
Tak banyak yang bisa dilakukan Rasti selain bertahan. Keinginan untuk memiliki rumah yang aman dan layak bagi keluarganya selama ini hanya menjadi harapan.
Kini, harapan itu mulai menemukan jalan.
Rasti, warga Dukuh Kendaga, Desa Larangan, Kecamatan Larangan, Kabupaten Brebes, akhirnya mendapatkan bantuan pembangunan rumah baru berukuran 4,5 x 12 meter.
Rumah tersebut dibangun melalui kolaborasi Pemerintah Kabupaten Brebes dan Baznas Kabupaten Brebes. Bagi Rasti, bantuan itu bukan sekadar menghadirkan bangunan baru, tetapi juga memberikan sesuatu yang selama ini tidak dimilikinya: kepastian tempat tinggal.
“Alhamdulillah, saya sangat bersyukur dan berterima kasih kepada Ibu Bupati, Pemerintah Kabupaten Brebes, Baznas, dan semua pihak yang sudah membantu kami. Saya tidak menyangka bisa mendapatkan bantuan untuk membangun rumah,” kata Rasti, Kamis (3/9/2026).
Ia masih mengingat bagaimana kondisi tempat tinggalnya sebelum mendapat bantuan. Selain tidak memenuhi standar kelayakan, rumah tersebut berdiri di atas lahan milik orang lain.
Karena itu, ketika bantuan pembangunan rumah datang, rasa syukur Rasti tidak hanya karena akan memiliki tempat tinggal yang lebih baik. Ada rasa lega karena keluarganya kini memiliki harapan untuk menempati rumah dengan lebih aman dan tenang.
“Bantuan ini sangat berarti bagi saya dan keluarga. Mudah-mudahan rumah ini nanti bisa menjadi tempat tinggal yang nyaman, aman, dan bisa kami tempati dengan tenang,” tuturnya.
Di balik rumah baru itu, Rasti juga menyimpan harapan agar cerita serupa tidak terus dialami warga lainnya.
“Semoga bantuan seperti ini juga bisa dirasakan oleh masyarakat lainnya yang membutuhkan,” ujarnya.
Kepala Dinas Perumahan dan Kawasan Permukiman (Dinperwaskim) Kabupaten Brebes La Ode Vindar Aris Nugroho mengatakan, pembangunan rumah Rasti merupakan bagian dari upaya pemerintah memperluas penyediaan hunian layak bagi masyarakat yang membutuhkan.
La Ode menjelaskan, berdasarkan hasil verifikasi lapangan, rumah Rasti sebelumnya tidak memenuhi standar kelayakan hunian. Persoalan lainnya, rumah tersebut berdiri di atas tanah milik orang lain.
Untuk itu, bantuan tidak hanya diarahkan pada pembangunan rumah, tetapi juga penyediaan lahan.
Baznas Kabupaten Brebes memberikan dukungan pembiayaan sebesar Rp 20 juta untuk pengadaan lahan. Sementara Dinperwaskim mengalokasikan Rp 35 juta untuk pembangunan konstruksi rumah sekaligus sarana jamban sehat.
“Setelah ini ada 500 unit lagi yang akan kita bangun,” kata La Ode.
Program tersebut menjadi salah satu bentuk kolaborasi lintas sektor untuk membantu masyarakat rentan mendapatkan hunian yang aman sekaligus memiliki kepastian atas tempat tinggalnya.
Selain program kolaborasi Pemkab Brebes dan Baznas, Kabupaten Brebes pada 2026 juga mendapatkan alokasi sekitar 1.500 unit bantuan bedah rumah dari Kementerian Perumahan dan Kawasan Permukiman (PKP).
Menurut La Ode, persoalan rumah tidak layak huni tidak dapat diselesaikan hanya dengan pembangunan fisik. Bagi sebagian masyarakat, persoalan kepemilikan dan legalitas lahan juga menjadi tantangan.
Karena itu, kolaborasi antara pemerintah, Baznas, dan berbagai pihak dinilai penting untuk memperluas jangkauan bantuan.
Bupati Brebes Paramitha Widya Kusuma mengatakan, kolaborasi tersebut akan terus didorong agar semakin banyak masyarakat berpenghasilan rendah memperoleh rumah yang layak.
“Semoga langkah ini terus berlanjut dan semakin banyak keluarga yang mendapatkan kesempatan memiliki rumah yang layak,” ujarnya.
Menurut Paramitha, rumah layak bukan sekadar bangunan untuk berlindung. Hunian yang aman dan nyaman memberikan ruang bagi keluarga untuk menjalani kehidupan dengan lebih tenang.
Bagi Rasti, arti sebuah rumah kini terasa lebih dalam.
Setelah bertahun-tahun hidup dalam kondisi serba terbatas dan tinggal di atas tanah milik orang lain, ia akhirnya memiliki harapan untuk menempati rumah yang lebih aman bersama keluarganya.
Sebuah rumah yang bukan hanya layak untuk ditinggali, tetapi juga menjadi tempat untuk membangun kembali rasa aman dan masa depan keluarganya. (sp/pr)







