Suarapena.com, TEMANGGUNG – Kegiatan Car Free Day (CFD) Panorama di Kecamatan Ngadirejo, Kabupaten Temanggung, mencatat perputaran uang hingga Rp 250 juta dalam satu kali penyelenggaraan. Event yang digelar dua minggu sekali ini dinilai telah berkembang menjadi destinasi wisata sekaligus penggerak ekonomi lokal yang potensial.
Bupati Temanggung Agus Setyawan mengatakan, nilai transaksi ratusan juta rupiah yang terjadi hanya dalam waktu sekitar empat jam, yakni pukul 06.00–10.00 WIB, menunjukkan besarnya daya tarik CFD Panorama bagi masyarakat.
“Dua minggu sekali perputaran uangnya bisa mencapai Rp 250 juta. Jika dianalogikan, ini seperti kinerja sebuah perusahaan yang sangat marketable,” kata Agus Setyawan, Minggu (11/1/2026).
Menurut Agus, Pemerintah Kabupaten Temanggung mendukung penuh keberlangsungan CFD Panorama, terlebih lokasinya berada di jalur jalan kabupaten yang strategis. Ia juga mengingatkan pentingnya menjaga pola penyelenggaraan dua minggu sekali agar antusiasme pengunjung tetap terjaga.
“Ritme dua minggu sekali sudah tertanam di masyarakat. Jangan karena ramai lalu diubah menjadi setiap hari, karena justru bisa menurunkan minat pasar,” ujarnya.
Penggagas sekaligus Ketua CFD Panorama, Moestamdji Seto Purwoko, membenarkan bahwa perputaran uang dalam kegiatan tersebut cukup signifikan. Ia menjelaskan, besaran transaksi sangat dipengaruhi kondisi cuaca, terutama karena panorama Gunung Sindoro dan Gunung Sumbing menjadi daya tarik utama.
“Jika cuaca cerah, nilai transaksi bisa meningkat tajam. Kisaran perputaran uang bisa mencapai Rp 200 juta hingga Rp 600 juta dalam satu event,” kata Moestamdji.
Ia menambahkan, CFD Panorama mengusung konsep perpaduan wisata belanja dan agrowisata. Selain produk olahan UMKM, pengunjung juga dapat membeli sayuran segar langsung dari petani, bahkan memetik sendiri di lahan pertanian sekitar lokasi.
Meski baru diluncurkan secara resmi oleh Bupati Temanggung pada 29 Juni 2025, CFD Panorama kini mulai menarik perhatian pihak swasta. Sekitar 170 pelaku UMKM terlibat dalam kegiatan ini, mulai dari pedagang lapak hingga petani lokal.
“Sudah ada beberapa perusahaan dan perbankan yang menjajaki kerja sama, meskipun belum dalam bentuk nota kesepahaman. Kami masih melakukan kajian agar kemitraan yang terjalin benar-benar berkelanjutan,” ujar Moestamdji. (sp/pr)










