Scroll untuk baca artikel
Par-Pol

DKPP Berhentikan Ketua KPU Hasyim Asy’ari, Terbukti Asusila!

×

DKPP Berhentikan Ketua KPU Hasyim Asy’ari, Terbukti Asusila!

Sebarkan artikel ini
Ketua DKPP Heddy Lugito

Suarapena.com, JAKARTA – Dewan Kehormatan Penyelenggara Pemilu (DKPP) dengan tegas menjatuhkan sanksi pemberhentian tetap terhadap Ketua Komisi Pemilihan Umum (KPU) Hasyim Asy’ari.

Sanksi tersebut diberikan karena Hasyim terbukti melakukan pelanggaran kode etik penyelenggara pemilu (KEPP), melakukan tindakan asusila terhadap seorang perempuan anggota Panitia Pemilihan Luar Negeri (PPLN) Den Haag, Belanda.

Advertisement
Scroll ke bawah untuk lihat konten

Ketua DKPP Heddy Lugito menegaskan bahwa seluruh dalil aduan yang disampaikan oleh pengadu atau korban dikabulkan untuk seluruhnya.

Berita Terkait:  Kata Puan Soal Ketua KPU Hasyim Asy’ari Dipecat Karena Kasus Asusila

“Menjatuhkan sanksi pemberhentian tetap kepada teradu Hasyim Asy’ari selaku ketua merangkap anggota komisioner KPU terhitung sejak putusan ini dibacakan,” ujar Heddy dalam sidang pembacaan putusan di Jakarta, Rabu (3/7/2024).

Dalam putusannya, Heddy juga meminta Presiden Jokowi segera melaksanakan putusan DKPP paling lambat tujuh hari sejak putusan dibacakan.

Berita Terkait:  KPU Jadwalkan Pemeriksaan Kesehatan Pasangan Anies-Muhaimin Sabtu, Ganjar-Mahfud Minggu

Adapun dalam kasus pelanggaran etik, Hasyim dituduh menggunakan relasi kuasa untuk mendekati, membina hubungan romantis, dan berbuat asusila terhadap pengadu, termasuk di dalamnya menggunakan fasilitas jabatan sebagai Ketua KPU RI.

“Cerita pertama kali ketemu itu di Agustus 2023, itu sebenarnya juga dalam konteks kunjungan dinas. Itu pertama kali bertemu, hingga terakhir kali peristiwa terjadi di bulan Maret 2024,” kata kuasa hukum korban sekaligus pengadu, Maria Dianita Prosperiani, saat mengadu ke DKPP, 18 April 2024.

Berita Terkait:  Pemberhentian Ketua KPU Tidak Akan Ganggu Pilkada Serentak 2024

Keduanya disebut beberapa kali bertemu, baik saat Hasyim melakukan kunjungan dinas ke Eropa maupun sebaliknya saat korban kunjungan dinas ke Indonesia.

Kuasa hukum lainnya, Aristo Pangaribuan, menyebut bahwa dalam keadaan keduanya terpisah jarak, terdapat upaya aktif dari Hasyim untuk menjangkau korban.

“Hubungan romantis, merayu, mendekati untuk nafsu pribadinya (saja),” kata Aristo. (r5/bs)