Scroll untuk baca artikel

NewsSuara Jateng

Delapan Tahun Penantian, Embung Geblog di Temanggung Akhirnya Dimanfaatkan Petani

×

Delapan Tahun Penantian, Embung Geblog di Temanggung Akhirnya Dimanfaatkan Petani

Sebarkan artikel ini
Delapan tahun penantian berbuah manis, Embung Geblog di Temanggung resmi beroperasi, petani tak lagi pikul air 1,5 kilometer.
Delapan tahun penantian berbuah manis, Embung Geblog di Temanggung resmi beroperasi, petani tak lagi pikul air 1,5 kilometer.

Suarapena.com, TEMANGGUNG – Puluhan petani di Desa Geblog, Kecamatan Kaloran, Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah, kini dapat bernapas lega. Setelah diusulkan sejak 2019 dan melalui proses panjang, Embung Geblog akhirnya terealisasi dan mulai dimanfaatkan pada 2026.

Kepala Desa Geblog, Utomo, mengatakan keberadaan embung tersebut sangat penting mengingat wilayahnya dikenal sebagai daerah tanah kering. Setiap musim kemarau, ratusan hektare lahan perkebunan warga kerap mengalami kekurangan air.

Advertisement

Scroll untuk terus membaca

“Dulu kalau kemarau, petani harus mengambil air dari bawah. Ada yang pikul, ada yang pakai motor bahkan mobil. Jaraknya sekitar 1,5 kilometer,” ujar Utomo, Senin (23/2/2026).

Menurut dia, sebelum embung dibangun, petani membawa air menggunakan jeriken untuk kemudian dimasukkan ke dalam tandon berkapasitas sekitar 500 liter. Air tersebut digunakan menyiram tanaman secara bergantian. Meski tidak ada biaya pembelian air, petani harus mengeluarkan ongkos bahan bakar maupun tenaga tambahan.

Berita Terkait:  Alhamdulillah... Petani di Jawa Tengah Terdampak Banjir dapat Bantuan Rp175 Miliar

Kini, embung yang telah dilengkapi pompa dan toren penahan memungkinkan air dialirkan langsung ke lahan perkebunan. Tanaman kopi, durian, alpukat, hingga pisang dapat disiram lebih mudah saat musim kemarau.

Utomo menilai, keberadaan embung juga mendukung program ketahanan pangan nasional yang dicanangkan Presiden Prabowo Subianto.

“Kalau air tersedia, hasil panen lebih stabil dan biaya petani berkurang,” katanya.

Ketua Kelompok Tani Wahyu Mulya, Suyadi Suryaputra, mengatakan terdapat sedikitnya 60 petani yang tergabung dalam kelompoknya, dengan total sekitar 30 hektare lahan berada di sekitar embung.

Ia menuturkan, sebelum ada embung, sejumlah tanaman kerap layu bahkan gagal panen akibat kekurangan air, terutama durian dan alpukat. Kekurangan air, lanjut dia, dapat memengaruhi proses pembungaan hingga perkembangan buah.

Berita Terkait:  Program Sertifikat Tanah Sasar 44.000 Bidang di Temanggung

“Sekarang petani senang sekali, karena ini sudah lama dinanti,” ujar Suyadi.

Petani lainnya, Jarwoko, yang membudidayakan kopi robusta, menilai keberadaan embung sangat membantu distribusi air saat kemarau.

“Untuk pertanian kalau musim kemarau, embung bisa digunakan untuk mendistribusi air, mengairi kocoran pepohonan di ladang-ladang kering,” katanya.

Selain untuk pertanian, embung juga dinilai berpotensi menjadi daya tarik wisata lokal. Warga setempat, Wahono, mengatakan pemandangan di sekitar embung cukup indah saat cuaca cerah.

“Kalau pas cuacanya terang, pemandangannya bagus sekali. Tampak Gunung Sindoro dan Gunung Sumbing. Pemandangan Kota Temanggung dan Parakan juga kelihatan,” ujarnya.

Keberadaan embung tersebut diharapkan tidak hanya menjaga keberlanjutan pertanian warga, tetapi juga mendorong peningkatan ekonomi masyarakat Desa Geblog. (sp/pr)

error: Content is protected !!

Eksplorasi konten lain dari Suarapena.com | Suara Pena Mata Hati Bangsa

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca