Scroll untuk baca artikel

NewsPar-Pol

Infrastruktur, Program MBG, hingga Kekurangan Guru di Boyolali Disorot Komisi X DPR

×

Infrastruktur, Program MBG, hingga Kekurangan Guru di Boyolali Disorot Komisi X DPR

Sebarkan artikel ini
Komisi X DPR RI melakukan kunjungan kerja ke Boyolali, Jawa Tengah, Kamis (15/5/2025). Dalam kunjungannya, sejumlah persoalan tak luput dari sorotan para legislator ini.
Komisi X DPR RI melakukan kunjungan kerja ke Boyolali, Jawa Tengah, Kamis (15/5/2025). Dalam kunjungannya, sejumlah persoalan tak luput dari sorotan para legislator ini.

Suarapena.com, BOYOLALI – Tim Panitia Kerja (Panja) Pendidikan di Daerah 3T (Tertinggal, Terdepan, Terluar) dan Daerah Marginal Komisi X DPR RI melakukan kunjungan kerja ke Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah, Kamis (15/5/2025).

Kunjungan ini bertujuan untuk menyoroti sejumlah masalah penting dalam dunia pendidikan di daerah tersebut, mulai dari infrastruktur sekolah yang memprihatinkan, pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG), hingga masalah kekurangan dan distribusi guru yang belum merata.

Advertisement

Scroll untuk terus membaca

Ketua Tim Panja, My Esti Wijayati, dalam pertemuan dengan berbagai pemangku kepentingan pendidikan di Kantor Bupati Boyolali, mengungkapkan kondisi beberapa sekolah yang sangat memprihatinkan.

“Hari ini kami Komisi X DPR Panja Pendidikan 3T dan Daerah Marginal berkunjung ke Boyolali, dan kami sudah meninjau tiga sekolah, yaitu SDN 1 Donohudan, SMPN 1 Ngemplak, dan SDN 1 Guli. Sayangnya, kondisi sekolah sangat rusak parah,” ungkap Esti.

Dua dari sekolah yang dikunjungi, yaitu SDN 1 Donohudan dan SMPN 1 Ngemplak, sudah menjalankan program MBG yang mendapat sambutan positif dari siswa.

Berita Terkait:  Komisi X DPR Bentuk Panja Pembiayaan Pendidikan Respons Kenaikan UKT

“Siswa di kedua sekolah tersebut sangat antusias dengan program ini, mereka mengaku senang dengan makanannya, bahkan menyebutnya enak dan menyenangkan,” tambah Esti.

Namun, Esti juga mengkritisi belum meratanya pelaksanaan MBG di seluruh wilayah. “Sayangnya, beberapa SD di pedesaan, terutama yang berada di wilayah dusun, belum mendapatkan program ini. Padahal, sekolah-sekolah di daerah tersebut juga sangat membutuhkan perhatian yang lebih,” jelasnya.

Esti juga mencatat adanya masalah dalam pelaksanaan program MBG di salah satu SMA negeri di Jawa Tengah, yang terhenti akibat masalah komunikasi antara vendor dan pihak pemerintah.

“Kami perlu mengevaluasi dan mencari solusi agar program ini dapat berjalan lebih efektif dan tepat sasaran,” tegasnya.

Selain itu, Esti menyoroti kondisi infrastruktur yang memprihatinkan, seperti yang ditemukan di SDN 1 Guli. Sekolah ini mengalami kerusakan berat, yang mengganggu proses belajar mengajar.

Berita Terkait:  Kolaborasi Jadi Kunci Sukseskan Program Makan Bergizi Gratis

“Sekolah ini harus berbagi ruangan, bahkan anak-anak masuk bergantian pada pagi dan sore hari,” ungkapnya.

Di bidang ketenagakerjaan, Esti juga mencatat adanya kekurangan guru yang terus berlanjut, terutama dengan adanya pensiun yang tidak diimbangi dengan rekrutmen guru baru.

“Selain kekurangan guru, distribusi guru juga perlu diperbaiki agar lebih merata,” ujarnya.

Untuk itu, Esti mengimbau Pemerintah Kabupaten Boyolali untuk melakukan pendataan yang lebih rinci agar bisa diketahui daerah mana saja yang mengalami kekurangan atau kelebihan guru.

Ia berharap Kabupaten Boyolali, yang memiliki komitmen tinggi terhadap pendidikan, dapat terus berupaya meningkatkan kualitas pendidikan dengan dukungan penuh dari DPR RI dan program-program pemerintah pusat.

“Kami siap mendukung upaya tersebut dengan berbagai program yang akan mempercepat peningkatan kualitas pendidikan di Boyolali,” tandas Esti. (r5/qq/aha)

error: Content is protected !!

Eksplorasi konten lain dari Suarapena.com | Suara Pena Mata Hati Bangsa

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca