Suarapena.com, BANDUNG – Realisasi investasi di Kota Bandung, Jawa Barat, mencapai sekitar Rp 6,4 triliun hingga semester I 2026.
Capaian tersebut menunjukkan tren positif karena nilai investasi meningkat dari triwulan I ke triwulan II 2026.
Kepala Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Kota Bandung Eric Mohamad Atthauriq mengatakan, sebagian besar investasi tersebut berasal dari penanaman modal dalam negeri (PMDN).
“Alhamdulillah, tren realisasi investasi Kota Bandung relatif meningkat dari triwulan I ke triwulan II atau semester I. Posisi sekarang sekitar Rp 6,4 triliun,” ujar Eric, Selasa (18/8/2026).
Dari total investasi tersebut, penanaman modal asing (PMA) menyumbang sekitar 15 persen, sedangkan PMDN mencapai sekitar 82 persen.
Menurut Eric, dominasi PMDN menjadi salah satu indikator positif bagi iklim investasi di Kota Bandung.
Pemkot Bandung, kata dia, terus berupaya memberikan kemudahan bagi pelaku usaha, termasuk dengan mempercepat dan menyederhanakan proses perizinan.
DPMPTSP Kota Bandung menargetkan realisasi investasi sepanjang 2026 mencapai Rp 11,9 triliun.
Namun, terdapat target tambahan yang diharapkan dapat mendorong realisasi investasi hingga Rp 12 triliun.
“Target resminya Rp 11,9 triliun. Tapi kemarin Pak Wali meminta, bisa tidak di Rp 12 triliun? Nah, itu hidden target-nya,” kata Eric.
Eric menyebut, peningkatan investasi tidak terlepas dari berbagai inovasi yang dilakukan Pemkot Bandung di bawah kepemimpinan Wali Kota Bandung Muhammad Farhan.
Salah satu program yang dikembangkan adalah trilogi investasi yang mulai digagas sejak 2025.
Program tersebut terdiri dari Bandung Investment Forum, Investor Day, dan Bandung Investment Summit.
Pada 2026, program tersebut kembali dilaksanakan. Salah satu agenda terdekat adalah Investor Day yang dijadwalkan berlangsung pada 19 Agustus 2026.
“Di tahun 2026 ini kami kembali melaksanakan trilogi investasi. Rencananya tanggal 19 Agustus yang akan datang kami juga akan melaksanakan Investor Day,” ujar Eric.
Selain mendorong promosi investasi, DPMPTSP Kota Bandung juga melakukan penyederhanaan pelayanan perizinan.
Salah satunya dilakukan melalui percepatan penerbitan Surat Izin Praktik (SIP) bagi tenaga kesehatan.
Program tersebut dilakukan melalui kerja sama dengan Kementerian PANRB, Kementerian Kesehatan, dan Dinas Kesehatan Kota Bandung.
Eric mengatakan, proses pelayanan yang sebelumnya memiliki lima tahapan kini dipangkas menjadi dua tahapan.
“Tadinya ada lima layer, sekarang kita persempit menjadi hanya dua layer saja. Ini salah satu upaya dalam rangka penyederhanaan perizinan,” ungkapnya.
Upaya tersebut turut mendapat perhatian pemerintah pusat.
Pada 12 Agustus 2026, DPMPTSP Kota Bandung menerima kunjungan tim penilai dari Kementerian Investasi.
Kota Bandung masuk dalam nominasi enam kota terbaik di Indonesia untuk kategori pelayanan terpadu satu pintu.
“Alhamdulillah, Kota Bandung masuk nominasi enam kota se-Indonesia terbaik untuk pelayanan terpadu satu pintu,” kata Eric.
Dari sisi sektor usaha, Eric menyebut adanya perkembangan pada sektor real estate.
Menurut dia, sektor tersebut mulai kembali menunjukkan pertumbuhan dalam realisasi PMDN pada semester I 2026.
“Hal yang cukup mengejutkan, ternyata di semester I ini salah satu sektor PMDN yang mulai trennya kembali menggeliat adalah real estate,” ujarnya.
Eric menilai, kembali menggeliatnya sektor real estate menjadi salah satu sinyal positif bagi perekonomian Kota Bandung.
Pemkot Bandung berharap tren tersebut dapat berlanjut seiring dengan inovasi dan percepatan pelayanan perizinan.
“Dengan berbagai inovasi dan juga percepatan pelayanan terpadu kita, ke depannya tren ekonomi Kota Bandung bisa lebih baik lagi,” tuturnya.
Selain kemudahan perizinan, konektivitas juga dinilai menjadi faktor penting dalam mendorong pertumbuhan ekonomi dan investasi.
Eric menilai kembali aktifnya penerbangan di Bandara Internasional Husein Sastranegara Bandung dapat memberikan dampak terhadap perekonomian Kota Bandung.
“Transportasi dan sarana perhubungan menjadi salah satu trigger untuk peningkatan perekonomian di Kota Bandung,” katanya.
Menurut dia, peningkatan konektivitas udara dapat mendorong aktivitas sektor kuliner dan UMKM.
Kemudahan akses menuju Bandung juga diharapkan membuat investor lebih mudah datang dan melakukan aktivitas bisnis di kota tersebut.
“Sektor kuliner atau UMKM itu ikut menggeliat. Kedua, para investor juga akan lebih cepat, mudah datang, dan berkeliling ke Kota Bandung,” ujar Eric.
Ia berharap status internasional Bandara Husein Sastranegara dapat semakin memperkuat konektivitas Bandung sekaligus membuka peluang masuknya lebih banyak penanaman modal asing.
Dengan realisasi investasi sekitar Rp 6,4 triliun pada semester I, Pemkot Bandung masih harus mengejar sekitar Rp 5,5 triliun untuk mencapai target resmi Rp 11,9 triliun hingga akhir 2026. (sp/pr)







