Suarapena.com, JAKARTA – Provinsi DKI Jakarta kembali menjadi daerah dengan realisasi investasi terbesar di Indonesia pada Triwulan II 2026. Berdasarkan data Kementerian Investasi dan Hilirisasi/Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM), nilai investasi yang masuk ke Jakarta mencapai Rp 94,9 triliun atau setara 18,5 persen dari total realisasi investasi nasional.
Capaian tersebut menempatkan Jakarta di posisi pertama nasional untuk realisasi investasi gabungan Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) dan Penanaman Modal Asing (PMA). Hasil ini juga memperlihatkan tingginya kepercayaan pelaku usaha terhadap iklim investasi di ibu kota.
Kepala Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Provinsi DKI Jakarta Heru Hermawanto mengatakan, capaian itu memperkuat posisi Jakarta sebagai pusat investasi sekaligus penggerak pertumbuhan ekonomi nasional.
“Pencapaian ini menunjukkan bahwa Jakarta tetap menjadi tujuan utama investasi di Indonesia. Kepercayaan investor yang terus meningkat merupakan hasil sinergi berbagai pihak dalam menciptakan iklim usaha yang kondusif, didukung arah kebijakan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta di bawah kepemimpinan Gubernur Pramono yang menempatkan kemudahan investasi dan pelayanan publik sebagai prioritas pembangunan,” ujar Heru di Jakarta, Jumat (17/7/2026).
Dari sisi investasi domestik, Jakarta membukukan realisasi PMDN sebesar Rp 58,6 triliun pada Triwulan II 2026. Angka tersebut menjadi yang tertinggi secara nasional dengan kontribusi 23,1 persen terhadap total PMDN Indonesia.
Sementara itu, realisasi PMA mencapai Rp 36,3 triliun atau berkontribusi 14,1 persen terhadap total investasi asing nasional. Nilai tersebut menempatkan Jakarta di peringkat kedua untuk investasi asing.
Secara kumulatif, realisasi investasi Jakarta sepanjang Semester I 2026 mencapai Rp 173,6 triliun. Jumlah itu terdiri atas PMDN sebesar Rp 106,5 triliun dan PMA senilai Rp 67,1 triliun.
Dengan capaian tersebut, Jakarta kembali berada di posisi teratas nasional dan melampaui Jawa Barat yang mencatatkan realisasi investasi sebesar Rp 138,1 triliun pada periode yang sama. Selisih keduanya mencapai Rp 35,5 triliun.
Heru menilai kuatnya investasi domestik yang diikuti arus investasi asing menjadi indikator bahwa Jakarta masih menjadi tujuan utama para investor.
“Dominasi Jakarta pada investasi domestik sekaligus kuatnya arus investasi asing menunjukkan bahwa Jakarta tetap menjadi pilihan utama pelaku usaha. Kombinasi ini memperkuat fondasi ekonomi daerah sekaligus meningkatkan daya saing Jakarta di tingkat nasional maupun global,” katanya.
Menurut Heru, capaian tersebut didukung sejumlah inovasi layanan yang terus dikembangkan DPMPTSP DKI Jakarta. Di antaranya optimalisasi Mal Pelayanan Publik (MPP), digitalisasi layanan perizinan dan nonperizinan, pelayanan jemput bola bagi pelaku usaha, hingga pendampingan investasi secara terintegrasi.
Selain itu, DPMPTSP juga memperkuat promosi investasi berbasis data melalui penyusunan peta potensi investasi dan pengembangan proyek Investment Project Ready to Offer (IPRO).
“Kami memastikan peluang investasi yang ditawarkan memiliki kesiapan dari sisi teknis, finansial, maupun pasar sehingga investor memperoleh kepastian yang lebih baik dalam mengambil keputusan investasi di Jakarta,” ujar Heru.
Ia menambahkan, Jakarta Investment Centre (JIC) juga terus diperkuat sebagai fasilitator yang menghubungkan investor dengan berbagai peluang usaha strategis di Jakarta. Melalui layanan tersebut, investor memperoleh informasi, pendampingan, serta kemudahan koordinasi dengan berbagai pemangku kepentingan.
Heru mengatakan, didukung infrastruktur yang terintegrasi, pasar yang besar, sumber daya manusia yang kompetitif, serta ekosistem bisnis yang matang, Jakarta masih menjadi pusat aktivitas ekonomi nasional. Sektor transportasi, pergudangan, telekomunikasi, perdagangan, jasa keuangan, jasa lainnya, hingga ekonomi digital menjadi penopang utama investasi di ibu kota.
“Kepercayaan investor yang terus meningkat menjadi modal penting bagi Jakarta untuk mempercepat transformasi ekonomi menuju kota global. Investasi yang masuk tidak hanya mendorong pertumbuhan ekonomi, tetapi juga membuka lapangan kerja, meningkatkan produktivitas, dan menciptakan kesejahteraan bagi masyarakat,” tutur Heru.
Ke depan, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta akan terus memperkuat sinergi dengan pemerintah pusat, dunia usaha, dan seluruh pemangku kepentingan guna menjaga tren pertumbuhan investasi.
“Kami optimistis tren investasi Jakarta akan terus tumbuh. Melalui pelayanan yang semakin mudah, cepat, transparan, dan terintegrasi, kami berkomitmen menjadikan Jakarta sebagai kota yang semakin kompetitif, inklusif, dan menarik bagi investor dari dalam maupun luar negeri,” pungkas Heru. (sp/pr)







