Scroll untuk baca artikel

HeadlinePena Kita

Kriminalisasi Ulama: Hukum Berdasar Nafsu?

×

Kriminalisasi Ulama: Hukum Berdasar Nafsu?

Sebarkan artikel ini
Kriminalisasi Ulama: Hukum Berdasar Nafsu? | Oleh Bang Miqo
Bang Miqo, Santri Mekah asal Lamongan, Penulis Buku Cahaya Qurani, dan Buku Bersama Cahaya.

Bukan masalah ‘siapa yang tertuduh’, tapi bagaimana membuktikan kesalahan dan memunculkan kebenaran. Jika memang tuduhan terbukti salah, ya hukum jangan dipaksakan untuk dijatuhkan pada orang yang nggak bersalah. Dan jika terbukti benar, ya semua harus legowo untuk menerima hukum ditegakkan. Harusnya seperti itu, kan?

Jadi, melihat ke kasus di Saudi lagi… Memang baik kalau nggak meributkan ‘kriminalisasi ulama’ di sini. Karena sesuai dengan ajaran Kanjeng Nabi, yang harus dilakukan otoritas sini adalah membuktikan aja. Kalau tuduhan salah ya dilepaskan, tuduhannya benar ya ditegakkan. Nggak ada koar-koar kriminalisasi ulama segala.

Advertisement

Scroll untuk terus membaca

Tinggal yang di Indonesia aja sih, sebenernya. Ituloh, yang suka mengaku paling Islami, siap nggak untuk menerapkan dan mengajak pada ajaran kanjeng Nabi ini? Siap nggak untuk nggak grusa-grusu ngamuk lalu memviralkan istilah kriminalisasi ulama? Katanya membela agama, hehe.

Berita Terkait:  Politik Bandul Perubahan

Yap, jangan percaya fitnah dan jangan menebarnya, bela orang yang didzalimi, oleh siapapun. Itu kewajiban kita semua! Tapi, di sisi lain, ada banyak hal yang juga wajib kita lakukan: terapkan hukum pada semua tanpa terkecuali, jangan tanggalkan logika ketika ada orang yang kita cintai tersandung hukum. Jadi Muslim yang menyeluruh, bukan cuma pro-organisasi tertentu.

Berita Terkait:  Hentikan Perang Propaganda Sesat Capres

Akhir, kalimat pedas yang diucapkan sebagian orang kadang-kadang bikin aku mikir juga: “… Kita juga menolak untuk mengulamakan kriminal!”

Wallahu a’lam.

@bangmiqo

Dzulhijjah 24, 1438 H
Pagi di Makkah, ditemani berita-berita ‘lucu’.

error: Content is protected !!

Eksplorasi konten lain dari Suarapena.com | Suara Pena Mata Hati Bangsa

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca