Suarapena.com, JAKARTA – Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Muhammad Tito Karnavian mengajak masyarakat untuk melakukan diversifikasi pangan sebagai salah satu solusi mengatasi krisis beras yang terjadi akhir-akhir ini.
Dengan diversifikasi pangan, masyarakat tidak hanya mengandalkan beras sebagai sumber karbohidrat, tetapi juga memanfaatkan produk-produk lokal lainnya yang sehat dan melimpah.
“Kita semua warga negara Indonesia harus sadar bahwa diversifikasi pangan itu penting. Jangan hanya fokus pada beras saja, padahal ada banyak pilihan makanan pokok lainnya yang bisa kita nikmati,” kata Mendagri Tito belum lama ini kepada awak media, Kamis (5/10/2023).
Menurut Mendagri, Indonesia memiliki berbagai macam produk karbohidrat selain beras, seperti jagung, ketela, sagu, sukun, sorgum, kentang, keladi (talas), ubi jalar, dan lain sebagainya.
Produk-produk tersebut tidak kalah bergizi dan lezat dari beras, bahkan bisa membantu mencegah penyakit seperti diabetes dan obesitas.
“Kenapa kita tidak mempromosikan makanan-makanan nonberas itu kepada masyarakat? Selain menyehatkan, hal ini juga bisa mengurangi beban kita untuk mengimpor beras dari luar negeri. Mari kita bersama-sama mendukung gerakan diversifikasi pangan ini,” tuturnya.
Mendagri juga menegaskan bahwa masyarakat tidak perlu merasa minder atau rendah diri ketika mengonsumsi makanan pokok nonberas.
Dia mengaku sering menyantap makanan-makanan tersebut di rumah maupun di tempat kerja.
“Saya sendiri sering makan keladi, sukun, jagung, dan lain-lain. Itu semua makanan sehat dan enak. Tidak ada yang salah dengan itu,” katanya.
Sementara itu, terkait dengan kelangkaan dan kenaikan harga beras yang terjadi belakangan ini, Kemendagri bersinergi dengan Kementerian/Lembaga (K/L) terkait seperti Badan Pangan Nasional (Bapanas), Bulog, Satgas Pangan Polri, hingga Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP) untuk memantau dan mengendalikan situasi pasar beras secara nasional.
“Kita berharap dengan langkah-langkah yang telah kita lakukan ini, kita bisa menstabilkan harga beras dan menjaga ketersediaan stoknya. Namun demikian, saya tetap mengingatkan bahwa kunci utama yang harus kita pegang adalah diversifikasi pangan. Jangan takut untuk mencoba makanan pokok yang nonberas,” pungkasnya. (r5/bo)










