Scroll untuk baca artikel

Sejarah

Menengok Sejarah Manila, Dikuasai Jepang dan Dibebaskan Sekutu

×

Menengok Sejarah Manila, Dikuasai Jepang dan Dibebaskan Sekutu

Sebarkan artikel ini
Tanket Angkatan Darat Jepang di Manila, Filipina 1942
Tanket Angkatan Darat Jepang di Manila, Filipina 1942. Foto: Wikipedia

Suarapena.com, JAKARTA – Manila adalah ibu kota Filipina yang memiliki peran penting dalam sejarah Perang Dunia Kedua. Kota ini menjadi saksi dari pendudukan Jepang yang brutal dan pembebasan Sekutu yang sengit. Dalam artikel ini, kita akan menelusuri kronologi dan dampak dari peristiwa-peristiwa tersebut.

Pendudukan Manila oleh Jepang (1942-1945)

Advertisement

Scroll untuk terus membaca

Pada tanggal 7 Desember 1941, Jepang menyerang pangkalan militer AS di Pearl Harbor, Hawaii, dan memicu masuknya AS ke dalam Perang Dunia Kedua. Kala itu, Jepang tergabung dalam Blok Poros bersama Jerman dan Italia. Selain Pearl Harbor, Jepang juga menyerang Filipina, Malaysia, Singapura, Hong Kong, dan Thailand. Beberapa minggu kemudian, Jepang masuk ke Indonesia, tepatnya pada 11 Januari 1942 melalui Tarakan, Kalimantan Timur.

Jepang mengincar Filipina karena letaknya yang strategis di Asia Tenggara dan sumber daya alamnya yang melimpah. Selain itu, Jepang juga ingin menghapus pengaruh AS dan Belanda di wilayah tersebut. Pada saat itu, Filipina masih berstatus sebagai koloni AS, sedangkan Indonesia masih dikuasai oleh Belanda.

Pada tanggal 8 Desember 1941, Jepang mendarat di Luzon, pulau terbesar di Filipina, dan mulai menyerbu Manila. Pasukan AS dan Filipina yang dipimpin oleh Jenderal Douglas MacArthur berusaha mempertahankan kota tersebut, tetapi kalah jumlah dan persenjataan. Pada tanggal 26 Desember 1941, MacArthur menyatakan Manila sebagai kota terbuka, artinya tidak akan ada perlawanan bersenjata di kota itu. Hal ini dilakukan untuk menghindari kerusakan dan korban sipil akibat serangan udara Jepang.

Namun, Jepang tetap mengebom Manila dan menewaskan ribuan orang. Pada tanggal 2 Januari 1942, Jepang berhasil menguasai Manila tanpa perlawanan. MacArthur dan pasukannya mundur ke Bataan, sebuah semenanjung di barat Luzon, dan bertahan di sana selama beberapa bulan. Pada tanggal 9 April 1942, pasukan AS dan Filipina menyerah kepada Jepang dalam peristiwa yang dikenal sebagai Death March of Bataan. Sekitar 75.000 tawanan perang dipaksa berjalan kaki sejauh 100 km dari Bataan ke Camp O’Donnell di bawah kondisi yang mengerikan. Banyak yang mati karena kelaparan, dehidrasi, penyakit, atau kekejaman Jepang.

Berita Terkait:  Pertempuran Karbala 680 Masehi pada 10 Muharram Bertepatan 10 Oktober

Sementara itu, Manila berada di bawah kendali Jepang selama tiga tahun. Selama masa itu, penduduk Manila mengalami berbagai penderitaan, seperti kelaparan, penyiksaan, pemerkosaan, eksekusi, dan kerja paksa. Jepang juga membentuk pemerintahan boneka yang disebut Republik Filipina Kedua, yang dipimpin oleh José P. Laurel. Pemerintahan ini tidak diakui oleh AS dan gerakan perlawanan Filipina, yang terus berjuang melawan Jepang dengan bantuan dari gerilyawan AS.

Pembebasan Manila oleh Sekutu (1945)

Pada pertengahan 1944, Sekutu mulai membalikkan keadaan perang melawan Jepang. Setelah berhasil merebut kembali beberapa pulau di Pasifik, Sekutu berencana untuk menyerang Filipina, yang merupakan pintu gerbang menuju Jepang. Pada tanggal 20 Oktober 1944, MacArthur kembali ke Filipina dengan membawa pasukan besar AS. Ia mendarat di Leyte, sebuah pulau di tengah Filipina, dan menyatakan “I have returned” (Saya telah kembali).

Pasukan AS kemudian bergerak ke utara menuju Luzon, dengan tujuan untuk merebut kembali Manila. Jepang tidak menyerah begitu saja, dan terjadi pertempuran sengit di berbagai tempat. Salah satu pertempuran terbesar adalah Pertempuran Teluk Leyte, yang melibatkan armada laut dan udara dari kedua belah pihak. Pertempuran ini berlangsung dari 23-26 Oktober 1944, dan berakhir dengan kemenangan Sekutu.

Pada tanggal 9 Januari 1945, pasukan AS mendarat di Teluk Lingayen di utara Luzon, dan bergerak cepat ke selatan. Pada tanggal 3 Februari 1945, pasukan AS memasuki pinggiran Manila, dan mulai mengepung kota tersebut. Jepang, yang dipimpin oleh Laksamana Muda Sanji Iwabuchi, bertekad untuk mempertahankan Manila sampai titik darah penghabisan. Ia memerintahkan pasukannya untuk membakar, merusak, dan membunuh semua yang ada di kota itu, termasuk warga sipil.

Berita Terkait:  Peringatan Hari Kesehatan Jiwa 10 Oktober, Siapa Pencetusnya?

Pertempuran Manila berlangsung selama satu bulan, dan menjadi salah satu pertempuran perkotaan paling brutal dalam sejarah. Pasukan AS dan Filipina harus berhadapan dengan pasukan Jepang yang bersembunyi di gedung-gedung, terowongan, dan benteng. Sementara itu, pasukan Jepang melakukan pembantaian massal terhadap penduduk Manila, yang diperkirakan menewaskan sekitar 100.000 orang. Banyak korban yang dibunuh dengan cara yang sadis, seperti dibakar hidup-hidup, ditusuk dengan bayonet, atau dipenggal dengan pedang.

Pada tanggal 23 Februari 1945, pasukan AS berhasil membebaskan kamp tawanan Santo Tomas, di mana ribuan tawanan perang dan warga sipil asing ditahan oleh Jepang. Di antara mereka yang dibebaskan adalah mantan Presiden Filipina Manuel Quezon, yang meninggal beberapa bulan kemudian karena tuberkulosis. Pada tanggal 3 Maret 1945, pasukan AS menguasai Istana Malacañang, tempat tinggal resmi presiden Filipina. Pada hari yang sama, Iwabuchi dan sebagian besar pasukannya bunuh diri di Benteng Santiago, sebuah benteng tua di Manila. Pertempuran Manila pun berakhir dengan kemenangan Sekutu.

Dampak Pertempuran Manila

Pertempuran Manila mengakibatkan kerusakan besar-besaran di kota tersebut. Banyak bangunan bersejarah yang hancur atau rusak parah, seperti gedung legislatif, katedral, universitas, dan museum. Manila, yang pernah dijuluki sebagai “Pearl of the Orient” (Mutiara Timur), berubah menjadi puing-puing. Selain itu, banyak nyawa yang hilang, baik dari kalangan militer maupun sipil. Pertempuran Manila dianggap sebagai salah satu tragedi terbesar dalam sejarah Filipina.

Pembebasan Manila juga membuka jalan bagi kemerdekaan Filipina dari AS. Pada tanggal 4 Juli 1946, Filipina secara resmi menjadi negara merdeka, setelah menandatangani Perjanjian Manila dengan AS. Namun, Filipina masih harus menghadapi berbagai tantangan, seperti pemulihan ekonomi, konflik politik, dan ancaman komunis. Meskipun demikian, Filipina tetap berusaha untuk membangun kembali negaranya dan menjaga identitasnya sebagai bangsa. (*)

error: Content is protected !!

Eksplorasi konten lain dari Suarapena.com | Suara Pena Mata Hati Bangsa

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca