Konsep BRT sendiri, kata dia, mengadopsi layaknya TransJakarta dengan mengandalkan bus berkualitas tinggi berbasis transit yang cepat, nyaman dan murah untuk mendukung mobilitas di kawasan perkotaan.
“Nantinya, dalam BRT didukung oleh stasiun KRL, hunian vertikal. Jadi, dalam satu kawasan ada hunian, dan moda transportasi yang saling terintegrasi,” paparnya.
BRT merupakan salah satu upaya konversi angkutan perkotaan (angkot) menjadi angkutan massal berupaya bus. Terutama untuk mengurangi kepadatan angkot dan minimnya penambahan jalan di Pusat Kegiatan Wilayah (PKW) Bumi Tegar Beriman.
Sementara Kepala Bidang Sarana dan Prasarana Bappedalitbang Kabupaten Bogor, Ajat Rohmat Jatnika mengungkapkan, Cibinong dengan luas wilayah 56,2 kilometer persegi, hanya memiliki panjang jalan sekitar 0,8% dari luas wilayah. Padahal, PKW setidaknya harus memiliki panjang jalan 2%.










