Scroll untuk baca artikel
NewsSuara Jateng

Meski Karhutla Padam, Jalur Pendakian Seluruh Gunung di Jateng Masih Ditutup

×

Meski Karhutla Padam, Jalur Pendakian Seluruh Gunung di Jateng Masih Ditutup

Sebarkan artikel ini
Jalur pendakian seluruh gunung yang ada di Jateng ditutup sementara meski Karhutla Gunung Sumbing dan Lawu sudah padam.
Jalur pendakian seluruh gunung yang ada di Jateng ditutup sementara meski Karhutla Gunung Sumbing dan Lawu sudah padam.

Suarapena.com, SEMARANG – Meski kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Gunung Sumbing dan Gunung Lawu telah berhasil dipadamkan, Pemerintah Provinsi Jawa Tengah (Pemprov Jateng) belum mengizinkan aktivitas pendakian kembali dibuka. Penutupan sementara seluruh jalur pendakian gunung di Jawa Tengah masih diberlakukan hingga status siaga darurat dicabut dan curah hujan terpantau stabil.

Kebijakan tersebut diambil sebagai langkah antisipasi untuk mencegah terjadinya kebakaran susulan, mengingat kondisi kawasan hutan dan pegunungan masih berpotensi mengalami kekeringan.

Advertisement
Scroll untuk terus membaca

Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (DLHK) Provinsi Jawa Tengah, Heru Djatmika, menjelaskan bahwa imbauan penutupan sementara jalur pendakian tertuang dalam surat bernomor S/500.4/891/2026.

Surat tersebut merupakan tindak lanjut dari penetapan status siaga darurat bencana kekeringan dan kebakaran hutan dan lahan di Jawa Tengah tahun 2026, sebagaimana tertuang dalam Keputusan Gubernur Nomor 100.3.3.1/237 Tahun 2026.

Sesuai arahan Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi, terdapat sejumlah langkah yang harus dilakukan pengelola jalur pendakian. Di antaranya menutup sementara seluruh jalur pendakian, meningkatkan patroli guna mengantisipasi pendakian ilegal, serta memperketat pengawasan di kawasan gunung.

Pengelola juga diminta menggencarkan sosialisasi dan edukasi pencegahan kebakaran hutan, memasang papan imbauan larangan pembakaran terbuka maupun menyalakan api unggun, serta memperkuat koordinasi dengan instansi terkait.

Heru menilai langkah edukasi tersebut sangat penting, mengingat dugaan sementara penyebab kebakaran di Gunung Sumbing dan Gunung Lawu berkaitan dengan kelalaian manusia dalam penggunaan dan pengelolaan api.

Berita Terkait:  10 Hari Pencarian Pendaki Hilang di Bukit Mongkrang Belum Membuahkan Hasil

“Dibukanya jika situasi khusus untuk dua gunung itu (Sumbing dan Lawu) tanggap daruratnya dicabut, dan kami nanti melihat ketika hujannya sudah stabil,” ujar Heru, Jumat (30/10/2026).

Ia menegaskan, kebijakan penutupan tidak hanya berlaku bagi Gunung Sumbing dan Gunung Lawu yang sebelumnya dilanda karhutla. Seluruh jalur pendakian gunung di wilayah Jawa Tengah juga masih diminta untuk ditutup sementara.

Sejumlah gunung yang terdampak kebijakan tersebut di antaranya Gunung Slamet, Gunung Muria, Gunung Merapi, Gunung Telomoyo, dan Gunung Merbabu.

Sementara itu, jalur pendakian di dua gunung yang sempat mengalami kebakaran juga belum diizinkan beroperasi. Rinciannya, Gunung Lawu melalui jalur Cetho dan Cemoro Kandang, serta Gunung Sumbing melalui jalur Temanggung dan Kalianget.

Heru meminta masyarakat, khususnya para pendaki, untuk bersabar dan tidak memaksakan diri melakukan pendakian sebelum ada keputusan resmi pembukaan jalur.

“Mohon bersabar dulu. Nanti kalau kondisinya sudah stabil, artinya hujan stabil, kemudian status siaga daruratnya sudah dicabut, dan memungkinkan untuk dilakukan jalur pendakian, pasti nanti akan kami mintakan untuk dibuka kembali,” imbuhnya.

Terpisah, Ketua Asosiasi Pemandu Gunung Indonesia (APGI) Jawa Tengah, Lazuardi, mengapresiasi kebijakan Pemprov Jateng yang tetap memberlakukan penutupan jalur pendakian meskipun kebakaran telah berhasil dipadamkan.

Menurutnya, kebijakan tersebut merupakan langkah preventif yang tepat untuk mengantisipasi potensi kebakaran kembali terjadi dan meluas ke kawasan hutan lainnya.

Berita Terkait:  Anggota Komisi IV Nilai Pendekatan Kearifan Lokal Bisa jadi Kunci dalam Mencegah Kebakaran Hutan dan Lahan

APGI Jawa Tengah, kata dia, juga telah menerjunkan sejumlah anggota lokal di sekitar basecamp untuk membantu melakukan pemantauan kondisi di lapangan.

“Kami APGI juga telah menerjunkan beberapa anggota lokal sekitar basecamp membantu pantauan di lokasi. Itu memang langkah yang tepat, setidaknya preventif daripada nanti dampaknya lebih luas lagi,” paparnya.

Lazuardi turut mengingatkan para pendaki agar selalu mematuhi prosedur keselamatan yang telah ditetapkan pengelola maupun pihak basecamp. Perhatian khusus perlu diberikan terhadap penggunaan api selama pendakian, termasuk aktivitas merokok dan menyalakan api untuk keperluan tertentu.

Ia mengingatkan bahwa dampak kebakaran hutan tidak hanya merusak ekosistem dan kelestarian alam, tetapi juga berpengaruh terhadap kehidupan sosial serta perekonomian masyarakat yang menggantungkan penghasilan dari aktivitas wisata pendakian.

Karena itu, Lazuardi berharap upaya pemulihan kawasan terdampak segera dilakukan melalui penanaman kembali vegetasi hutan atau reboisasi. Selain itu, diperlukan pelatihan penanganan kebencanaan dari instansi terkait agar masyarakat dan para pelaku wisata gunung memiliki kesiapsiagaan lebih baik dalam menghadapi potensi bencana serupa.

“Kejadian ini tentu berimbas tidak hanya pada perekonomian warga, juga pada alam sekitar. Maka harapan kami, perlu segera dilakukan penanaman kembali, juga pelatihan dari instansi terkait mengenai penanganan kebencanaan, agar cepat terselesaikan,” pungkasnya. (sp/pr)

error: Content is protected !!

Eksplorasi konten lain dari Suarapena.com | Suara Pena Mata Hati Bangsa

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca